0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

EWS Mahal, BPBD Kesulitan Pantau Bencana Tanah Gerak

timlo.net/nanin
Tanah gerak di kawasan Boyolali Utara (timlo.net/nanin)

Boyolali — Badan Penanggulangan Bencana Daerah Boyolali terkendala dana untuk pengadaan alat Early Warning System (EWS) atau alat pendeteksi dini bencana alam terutama tanah gerak dan longsor. Kondisi ini membuat pemantauan bencana tanah gerak dan longsor kurang maksimal. Pasalnya, pantauan dilakukan secara manual.

“Kita terkendala dana, satu unit EWS harganya mencapai Rp 350 juta, belum lagi biaya operasional dan suku cadang,” kata Kepala BPBD Boyolali, Nur Khamdani, Minggu (06/12).

Pihaknya sudah mengajukan bantuan ke BPBD Provinsi dan BNPB namun hingga kini belum dipenuhi. Padahal, keberadaan EWS sangat mendesak diperlukan untuk memantau daerah rawan tanah gerak, seperti di Kendel dan Watu Gede, Kemusu dan Gondanglegi, Klego.

“Di Gondanglegi ada, bantuan dari BPBD Provinsi, tapi alatnya rusak,” tambah Nur.

Sementara itu, memasuki musim penghujan, warga di titik tanah gerak Desa Kendel, Kemusu, mengaku was-was bila hujan lebat turun. Pasalnya, tanah yang terkena hujan terus bergeser . Bila hujan lebat turun, warga memilih berada di luar rumah. Kondisi ini semakin meresahkan bila hujan deras turun di malam hari. Warga berharap segera dipasang alat pendeteksi dini agar bisa secepatnya menyelematkan diri bila sewaktu-waktu bencana terjadi.

“Takut, apalagi tanah terus bergeser, kita pilih diluar rumah, berjaga-jaga,” tandasnya.

Editor : Wahyu Wibowo

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge