0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

PT Berperan Selesaikan Tantangan Bangsa

dok.timlo.net/tyo eka
Anggota Wantimpres Irjen Pol (Purn) Drs Sidarta Danusubroto SH (kanan) dan Rektor UMS Prof Bambang Setiaji (dok.timlo.net/tyo eka)

Sukoharjo – Perguruan tinggi (PT) berperan besar dalam menyelesaikan tantangan bangsa melalui inovasi. Inovasi dalam segala bidang keilmuan yang mendukung percepatan program prioritas pemerintah.

Demikian ungkap anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), Irjen Pol (Purn) Drs Sidarta Danusubroto SH dalam kuliah umum bertemakan Menggali Sejarah dalam Kerangka Ke Islaman, Keindonesiaan dan Kemajuan, di depan civitas akademika Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), di Kampus UMS, Pabelan, Kartasura, Sukoharjo, Jumat (4/12).

Menurut Sidarta, inovasi perlu dua bahan dasar, yakni manusia kreatif dan riset teknologi. Manusia kreatif dicetak dan digembleng di perguruan tinggi. Melalui ide-ide kreatif perlu riset, pengembangan, penyempurnaan dan uji coba untuk dapat diterapkan.

Sementara itu terkait dengan Kerangka Ke-Islaman, sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden, Sidarta mengemukakan, Nawacita,  butir pertama menyebutkan bahwa negara harus hadir memberikan rasa aman untuk warga. Artinya, negara mampu melindungi setiap jiwa warga negara Indonesia tanpa melihat suku, ras, budaya, bahasa, maupun agama yang dianut.

“Nilai-nilai kebhinekaan, kesadaran multikultural perlu ditumbuhkembangkan secara berkelanjutan,” jelasnya.

Selain itu, berinteraksi dan bersikap toleran menerima dan menghormati segala perbedaan pada diri dan lingkungan sosial sekitar, tidak bersikap defensif dan diskriminatif terhadap kelompok yang berbeda,  mampu menjadi perekat kehidupan dan kebudayaan bangsa.

“Implementasi nilai-nilai kebhinekaan diharapkan dapat menumbuhkan jiwa nasionalisme yang selanjutnya dapat membentuk jati diri bangsa, menempatkan kepentingan umum atau negara di atas kepentingan pribadi atau golongan,” jelasnya.

Pada kesempatan itu, Rektor UMS Prof Bambang Setiaji mengemukakan, Muhammadiyah setia kepada cita cita Indonesia, menerima keberagaman, tidak memaksakan keyakinan keagamaanya.  Kesetiaan Muhammadiyah kepada Indonesia ditandai dengan diangkatnya Ki Bagus Hadikusumo sebagai Pahlawan Kemerdekaan. Muktamar Muhammadiyah ke 56 di Makassar bulan Agustus lalu juga menegaskan bahwa Muhammdiyah ingin berperan aktif menerima dan ingin memberi warna dalam NKRI yang disebut sebagai negara konsensus (darul ahdi)  untuk hidup (membangun) bersama.

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge