0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Potret Kemiskinan, Makan Nasi Putih Hanya Ketika Dapat Bantuan

Mbah Samikem bersama empat putranya didampingi Kades dan Camat (dok.timlo.net/tarmuji)

Wonogiri — Nampak guratan-guratan jaman terpahat di raut muka nenek berusia senja ini. Namun dengan sabar Mbah Samikem (80), warga Dusun Setren RT3/ RW 8 Desa Lemahbang, Kecamatan Kismantoro, Wonogiri melayani dan mengasuh ke empat putranya yang mengalami tuna wicara sejak lahir.

Mbah Samikem menghabiskan sisa hidupnya bersama empat putranya, Misni, Samino, Simin, dan Samidi. Keempatnya merupakan bagian dari 40-an penyandang disabilitas yang ada di Desa Lemahbang. Empat laki-laki berusia 40 tahunan ini penyandang tuna wicara.

Dusun Setren sendiri terletak di bawah kaki bukit. Terpampampang jelas deretan pegunungan menjadi latar belakang rumah Mbah Samikem. Ddusun itu merupakan tapal batas Kabupaten Ponorogo dan Kabupaten Pacitan (Jatim.)

Kehidupan keseharian Mbah Samikem sangat miris. Untuk makan sehari-harinya, ia mengandalkan singkong hasil dari berkebun empat putranya. Sedang kebunnya (tegalan) berada di perbukitan, sehingga hanya cocok ditanami ubi singkong saja.

Mangan sego putih kui yen entuk bantuan Raskin, saben dino yo mung tiwul, dadi sego uleng (makan nasi putih saat dapat bantuan Raskin saja yang dicampur tiwul),” ungkap Mbah Samikem, Selasa (1/12).

Takhanya itu saja,Mbah Samikem menyebut,jika keluarganya bisa makan lain rasa atau makan daging ayam dan sapi,hanya saat ada hajatan warga sekitar.

Walaupun hidup seadanya, Mbah Samikem tampak tenang. Empat putranya sesekali mendapatkan uang dari hasil bekerja buruh kasar dan buruh pertanian. Warga sekitar ada kalanya meminta bantuan empat anaknya untuk bekerja membantu di ladang. Nah dengan upah alakadarnya itu dipergunakan untuk kebutuhan sehari-harinya.

Niku angsal bantuan mendho gangsal saking tiyang Slogohimo,kersane ngge tunggu urip (dapat bantuan kambing lima ekor untuk kebutuhan hidup),” ujarnya.

Terlihat jelas kondisi rumah Mbah Samikem jauh dari kata layak huni. Berlantai tanah yang berdebu, berdinding keliling bambu yang sudah usang dimakan rayap. Mereka tidur di lantai beralaskan tikar.

“Emper rumah ini,baru saja diperbaiki warga sekitar dengan dana bantuan,” jelasnya.

Pemandangan menyayat hati tak hanya dialami Mbah Samikem sekeluarga. Wilayah Kecamatan Kismantoro sendiri sudah lama ditetapkan sebagai daerah zona merah kemiskinan.

Desa Lemahbang memiliki empat dusun, yakni Dusun Janggle, Setren, Lemahbang dan Sambeng. Menurut Kepala Desa Lemahbang, Sugito Najib, terdapat lebih dari 40 penyandang cacat, gondok dan kretin di Lemahbang. Tuna wicara 13 orang, gangguan jiwa 9 orang, cacat tubuh 6 orang, 2 orang lumpuh, 6 gondok, 1 keterbelakangan mental, 1 tuna rungu, dan 1 tuna netra.

“Warga sini sudah terbiasa dengan penyandang disabilitas, warga tidak pernah membeda-bedakan,” tandasnya.

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge