0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Kebun Bunga Amaryllis Rusak Terinjak, Bagaimana Pendapat Pemiliknya?

Novianto dan Bapak Sukadi. (Dok: Timlo.net/ Facebook)

Timlo.net—Bunga Amaryllis rupanya tumbuh pada awal musim penghujan dan dikenal dengan nama Bunga November. Bunga ini sempat menjadi pembicaraan di internet. Seperti yang ditulis sebelumnya, kebun bunga Amaryllis yang terletak di Dusun Ngasem Ayu, Desa Salam, Kecamatan Patuk, Kabupaten Patuk, Gunung Kidul, DI Yogyakarta rusak parah karena diinjak oleh para pengunjung yang berfoto selfie.

Yang menyedihkan beberapa orang yang diduga sebagai pengunjung yang menginjak bunga itu tidak menunjukkan penyesalan mereka di sosial media. Lantas bagaimana perasaan sang pemilik kebun itu mengetahui jika bunga-bunganya rusak terinjak?

Seorang pengguna Facebook bernama Novianto Setiawan sempat bertemu dan berbincang dengan sang pemilik kebun bunga seluas 2.000 meter persegi itu, Bapak Sukadi. Novianto menulis perbincangan mereka dalam akun Facebooknya:

SEKELUMIT KISAH MIRIS SI MANIS AMARYLLIS

Puspa Pathuk, magnet baru di Jogja berupa taman bunga ala eropa dimana bunga yang tumbuh terasa spesial buat saya karena adalah nama yang saya sematkan pada putri saya, Valeska Odelia Amaryllis.

Sang pemilik adalah orang yang paling menarik untuk saya temui yang belakangan saya ketahui bernama Bapak Sukadi. Dari beliaulah saya mendapat banyak cerita di antara ratusan pengunjung yang bahkan mungkin tak permisi dulu berkunjung dan ber-selfie ria, tak sempat berfikir untuk kulo nuwun pada tuan rumah, tak peduli bahwa mereka masuk halaman rumah orang.

Tahun 2006 beliau mulai membudidayakan bunga Amaryllis atau lebih akrab mereka sebut sebagai Brambang Procot, hingga lambat laun perluasan area tumbuh memenuhi tegalan di depan rumahnya dan saat musim berbunga yang hanya setahun sekali ini mencapai puncaknya hari Selasa lalu yang kemudian terunggah ke media sosial dengan visual luar biasa mempesona dan bisa ditebak efeknya.

Jumat kemarin sekitar 1500 orang tumpah ruah berkunjung sepanjang hari mendesak, menginjak, menindih, merusak rumpun tanpa ampun, sengaja maupun tidak. Bapak Sukadi tak punya daya mencegah, tak bisa berbuat banyak, kecuali harus rela kebun bunganya terkoyak koyak.

Pun begitu. Beliau secara luar biasa masih meminta maaf via announcer kepada pengunjung jika panorama sudah tak seindah beberapa hari sebelumnya. Lalu jika yang empunya saja begitu menghargai tamunya, bagaimana empati dari pihak sebaliknya??

Beliau tidak menyalahkan siapapun karena memang kebunnya tidak di desain untuk wisata sebelumnya sehingga akses dan segala kelengkapan tak dipersiapkan mengantisipasi ribuan wisatawan dadakan.

Beliau cuma berharap ada sedikit kepedulian untuk perawatan kebunnya lewat kotak sukarela di depan pintu masuk yang itupun lebih banyak di lewati orang orang dengan wajah sok cuek dan tanpa dosa sehingga hitungan ratusan orang di kebun dengan beberapa lembar di kotak jelas bukan jumlah yang seimbang.

Bapak Sukadi berencana mengembangkan kebunnya menjadi salah satu destinasi wisata Gunungkidul yang memang sedang jadi primadona. Barakallah Pak, semoga kisah miris di kebun bapak yang bapak sikapi dengan ikhlas dan bersahaja menjadi pembuka rizki yang baru, yang terus mengalir tak berkesudahan. Aamiin…

Akhirnya, sebelum berpamitan dan meminta izin berfoto dengan beliau saya selipkan selembar ratus ribuan sebagai sekedar bentuk simpati yang tentu amat tak sebanding dengan mahalnya keindahan kebunnya yang kini compang-camping, sambil melirik tuan dan nyonya bermobil bergaya parlente yang pastinya jauh lebih kaya daripada saya tapi entah rasa kepeduliannya.

MY TRIP MY ADVENTURE ?
BOLEH EKSIS tapi JANGAN NGAWUR !

PUSPA PATHUK GUNUNG KIDUL, SABTU , 28 NOVEMBER 2015

Editor : Eddie Mutaqin

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge