0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Gara-gara Ini, Angka Kasus Perceraian Tinggi

Ilustrasi Perceraian ()

Solo — Tahun ini, angka perceraian di Kota Solo tergolong cukup tinggi. Di Pengadilan Agama (PA) Solo tercatat, terdapat 764 perkara perceraian yang telah mereka tangani. Sebagian besar, justru merupakan gugatan dari pihak perempuan (istri). Pasalnya, pihak istri menganggap pasangannya tidak bertanggung jawab.

“Hingga Januari sampai Oktober 2015 terdapat 867 dari berbagai kasus perceraian. Dan 80 persennya penggugat adalah pihak perempuan,” terang Panitera Muda Hukum Pengadilan agama Solo Arif Rahman, saat ditemui wartawan baru-baru ini.

Arif menjelaskan cerai gugat sebanyak 491 kasus, sedangkan cerai talak hanya 170 kasus yang sudah diputus. Angka permohonan cerai dari pihak perempuan mencapai 80 persen. Sedangkan besaran angka perceraian di Solo rata-rata 1000 kasus per tahun. Dia mengatakan alasan terbanyak yakni tidak mau menafkahi dan tidak bertanggung jawab.

“Kebanyakan faktor ekonomi dengan tidak menafkahi. Tidak harmonisan adanya Wanita Idaman Lain (WIL) dan Pria Idaman Lain (PIL) tidak mendominasi,” terangnya.

Tingkat pendidikan, lanjutnya, juga tidak terlalu berpengaruh. Mereka yang memilih bercerai banyak dari kelompok masyarakat ekonomi menegah kebawah. Namun penggunaan jasa pengacara di Solo jauh lebih banyak dibanding PA daerah lain.

“Kebanyakan buruh sih, PNS ada tapi sangat jarang,” ujarnya.

Diungkapkan, tingkat kasus perceraian di Kota Solo masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan kawasan sekitar Solo. Dia menyebut, di luar kawasan Solo bisa mencapai angkap 1.000 lebih kasus perceraian setiap tahun.

Pihaknya mengaku sidang peceraian tidak berlangsung lama. Bisa diselesaikan dalam dua sampai tiga kali sidang. Namun dia senang jika pada akhirnya kedua belah pihak yang berperkara memilih rujuk.

“Kita yang penting persidangan itu murah dan cepat, tapi majelis hakim akan lebih senang jika kedua pasangan yang akan becerai memilih bersatu kembali,” tuturnya.

 

Alasan Permohonan Cerai Januari – Oktober 2015

  • Krisis Akhlak, 26 kasus
  • Cemburu,18 kasus
  • Ekonomi, 7 kasus
  • Tidak ada Tanggung Jawab, 354 kasus
  • Kekejaman Jasmani (KDRT), 3 kasus
  • Terjerat masalah Hukum, 6 kasus
  • Gangguan Pihak Ketiga, 66 kasus
  • Tidak Ada Keharmonisan, 162 kasus
  • Lain-lain, 7 kasus

 

Sumber : Pengadilan Agama Solo

Editor : Wahyu Wibowo

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge