0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Kadus di Gemolong Otaki Curanmor

Kasat Reskrim Polres Sragen, Iptu Maryoto dan Kapolsek Gemolong Iptu Harjanto Mukti serta Kasubag Humas AKP Saptiwi memberikan keterangan pers terbongkarnya sindikat Curanmor di Sragen, Kamis (26/11). (foto: Agung)

Sragen – Satreskrim Polres Sragen bersama tim dari Polsek di eks Kawedanan Gemolong berhasil meringkus 7 orang tersangka yang terlibat dalam sindikat pencurian kendaraan bermotor (Curanmor) yang sering merajalela di areal persawahan dan masjid. Salah satu tersangka Ngatimin alias Bengoh (42), selama ini juga dikenal sebagai kepala dusun (Kadus) atau bayan di Desa Jenalas, Kecamatan Gemolong diduga merupakan otak dari sindikat tersebut.

“Tertangkapnya tujuh tersangka ini atas kerja keras Polsek di Kawedanan Gemolong. Ini berawal adanya laporan warga karena seringnya terjadi Curanmor . Kami juga mengamankan 24 kendaraan hasil kejahatan,” kata Kapolres Sragen AKBP Ari Wibowo melalui Kasat Reskrim Iptu Maryoto, Kamis (26/11).

Iptu Maryoto mengungkapkan, sindikat curanmor itu dibongkar setelah pihaknya bersama Polsek eks-Kawedanan Gemolong (Plupuh, Kalijambe, Sumberlawang) menangkap Wahyu alias Basir dalam operasi cipta kondisi pada 17 Agustus lalu. Dari penagkapan tersebut lantas dikembangkan dan berturut-turut Polsek eks Kawedanan Gemolong berhasil meringkus 5 tersangka lainnya.

Tersangka AD dan GW ditangkap di Teras, Boyolali. Keduanya terpaksa ditembak dengan timah panas karena berusaha melarikan diri.

Bersamaan dengan itu kemudian tertangkap K alias D dan S, di wilayah persembunyiannya di daerah Kemusu, Boyolali serta S alias D.

“Semua tersangka sudah kami amankan di Polres dengan barang bukti yang kita amankan. Selain 24 kendaraan yang belum sempat dijual juga ada 72 pelat nomor asli dan beberapa SIM, STNK serta KTP yang disembunyikan di rumah tersangka Ngatimin,” jelasnya.

Kapolsek Gemolong Iptu Harjanto Mukti menambahkan, dari hasil penyidikan, sindikat ini beraksi ratusan kali di berbagai lokasi Kabupaten Sragen. Sindikat ini juga terbilang rapi dan terorganisir. Hal itu lantaran ada pembagian tugas dan peran yang dilakukan secara terencana.

“Ada tim yang bertugas memetik atau mencuri motor di lapangan, ada penadah serta ada yang menjadi makelar motor hasil curiannya untuk dilempar ke luar daerah,” jelas Iptu Mukti.

Editor : Dhefi Nugroho

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge