0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Tak Perpanjang Visa Kerja, Yamti Memilih Ilegal

Ilustrasi TKI (merdeka.com)

Karanganyar — Yamti Hidayah Rahmani (25) tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Karangmojo, Tasikmadu yang meninggal di Malaysia usai melahirkan anaknya merupakan TKI ilegal. Yamti berangkat tahun 2011 secara legal melalui PT Sukses Mandiri Utama (SMU) Cabang Jateng di Sragen. Namun setelah habis masa kontrak Yamti tidak memperpanjang visa kerjanya dan memilih tinggal secara ilegal hingga meninggal.

“Yamti mendaftar bekerja di Malaysia setelah lulus dari SMK Wikarya Karanganyar. Dia berangkat Oktober 2011 dan bekerja di GE Electric BHd, Kuala Lumpur,” kata Sugianto, Kepala Cabang PT Sukses Mandiri Utama, Rabu (18/11).

Sugianto menjelaskan, kontrak Yamti selama dua tahun habis pada 2013. Aturannya, setelah habis kontrak harus pulang. Jika ingin kembali bekerja harus memperpanjang kontraknya. Namun saat dijemput PT SMU ke Malaysia bersama sekitar 140 rekannya untuk pulang ke Karanganyar, Yamti menolak dan memilih tinggal secara ilegal di Negeri Jiran. Karena sudah diterima bekerja di sebuah pabrik lain hasil koneksinya sendiri.

“Karena tidak mau pulang, akhirnya kita tinggal. Status kontraknya dengan kami (PT SMU) sudah lepas. Kami juga sudah memberi tahu kepada keluarganya. Yamti sendiri waktu itu sudah telepon dengan keluarganya di Karangmojo,” kata Sugianto.

Informasi yang diperoleh dari rekan-rekan Yamti, ternyata Yamti menikah dengan pria asal Tubah pada 2013. Bahkan dia melahirkan anak pertama, namun anaknya meninggal. Kemudian dia hamil lagi, namun bersamaan dengan kehamilan keduanya, suaminya pergi meninggalkannya.

”Sampai jenazahnya dipulangkan ke Karangmojo, suaminya juga tidak mengantarkan, bahkan mungkin belum tahu istri dan anaknya meninggal dunia. Kami sedang melacak ke teman-temannya di Malaysia siapa suaminya itu,” kata dia.

SMU sendiri, jelas Sugianto, meski tak lagi terikat kontrak, namun berupaya membantu keluarga melacak suaminya. Hal itu dilakukan sebatas hubungan moral saja, karena tidak mungkin menguruskan haknya karena bekerja bukan lagi di bawah PT Sukses Mandiri Utama.

Editor : Wahyu Wibowo

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge