0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Parkir Elektronik Belum Maksimal, Dishub : Jukir Sering Nombok

timlo.net/setyo pujis

Yosca Herman Soedrajad

Solo — Upaya pemaksimalan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Solo melalui penertiban tarif parkir dan parkir elektronik, mengalami sejumlah kendala. Baik teknis di lapangan dan non teknis.

“Secara teknis kita masih kekurangan alat untuk sistem parkir elektronik. Selain itu alat parkir elektronik ini hanya memiliki daya maksimal 6 jam, dan harus di charge,” ungkap Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi (Dishubkominfo) Kota Solo, Yosca Herman Sudradjad, Selasa (18/11).

Dia mengatakan kendala di lapangan ini cukup merepotkan para juru parkir (jukir). Lantaran alat pencatat parkir yang mirip smartphone ini harus di charge menggunakan listrik, dan tidak bisa menggunakan powerbank. Sementara, arus yang memasuki dan meninggalkan lokasi terus berjalan, sehingga jukir kesulitan menentukan tarif parkir progresif yang dikenakan.

“Sementara ini kalau alat sedang di charge, ya perhitungannya manual dulu,” kata dia.

Selain itu, pengguna jasa parkir juga harus bersabar lantaran proses penge-print-an tanda bukti parkir cukup lama. Biasanya ini disebabkan data parkir lama masih tersimpan pada memori, sehingga kerja perlatan menjadi berat dan berdampak pada loading proses print out menjadi relatif lama. Hal ini telah diatasi dengan menghapus data pada server pusat Dishubkominfo secara berkala.

Kendala non teknis yang dihadapi para jukir, adalah adanya sebagian pengguna jasa parkir yang memaksakan diri untuk membayar di muka. Padahal tarif yang digunakan adalah tarif progresif, sehingga kerap kali jukir menjadi nombok lantaran tarif parkir yang bertambah tiap jamnya.

“Nanti kalau jukir itu minta kekurangannya pada pengguna, malah terjadi gesekan. Ini ya repot. Terutama bagi mobil dan motor luar kota. Kalau untuk dalam kota sudah cukup bagus,” katanya.

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge