0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Angka Perceraian di Wonogiri Tinggi, Penyebabnya Masalah Ekonomi

Ilustrasi Bercerai

Wonogiri — Dalam sebulan Pengadilan Agama (PA) Wonogiri menerima kasus perceraian mencapai ratusan perkara. Bahkan, usai masa lebaran, angka perceraian justru meningkat.

“Rata-rata tiap bulan, ada 150 perkara yang masuk,” ungkap Sekretaris Pengadilan Agama Wonogiri, Riyanto, Senin (16/11).

Menurutnya, Jumlah kasus perceraian 2015 yang masuk ke PA Wonogiri hingga Oktober mencapai sekitar 1.300 perkara.

“Jika dibandingkan dengan wilayah lain di Soloraya, Wonogiri ini masih sedikit. Jika dibuat peringkat, Wonogiri hanya menempati posisi 3 atau 4 saja. Paling tinggi adalah Sragen, kemudian disusul Klaten dan Karanganyar. Selanjutnya baru Wonogiri dan Boyolali yang angka perceraiannya cenderung sejajar,” jelasnya.

Dikatakan, biasanya jumlah tersebut akan meningkat hingga 200 perkara usai lebaran. Hal tersebut dimungkinkan pada saat lebaran, banyak warga Wonogiri yang merantau pulang dan mengurus cerai. Ia meyebut, faktor pendukung penyebab kasus perceraian di Wonogiri cukup variatif. Namun, paling dominan soal perekonomian.

“Alasannya karena pihak suami tidak bertanggung jawab menafkahi istrinya sehingga memilih bercerai,” katanya.

Riyanto menyebutkan, faktor orang ketiga dalam rumah tangga, namun jumlahnya tidak banyak. Pihakya bersama jajaran PA se-Surakarta telah sepakat, pada akhir tahun ini, sisa perkara yang tidak terselesaikan tidak boleh lebih dari 10 persen jumlah perkara yang masuk dalam satu tahun.

“Ada juga yang mengajukan dispensasi kawin. Jumlahnya, jika per bulan ada 150 ajuan perkara, maka pengajuan dispensasi kawin ada sekitar 20 permohonan,” lanjutnya.

Dirinya tidak mengetahiui secara pasti alasan pengajuan dispensasi kawin tersebut. Namun ada kemungkinan bahwa pasangan muda yang mau menikah sudah hamil terlebih dulu, sehingga harus segera dinikahkan.

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge