0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Luweng Berampo, Tempat Tirakat Bagi yang Ingin Lepas dari Jeratan Hukum

timlo.net/tarmuji

Luweng Borampo Paranggupito

Wonogiri – Masyarakat Desa Gendayakan, Kecamatan Paranggupito, Kabupaten Wonogiri memiliki legenda yang hingga kini masih dipercayai warga setempat. Bahkan peninggalan dari lengenda tersebut masih ada hingga sekarang. Namanya Luweng Berampo. Konon tempat ini tempat membuang perwujudan Mbah Gembloh.

Diceritakan seorang tokoh masyarakat setempat, Suyadi, konon Mbah Glemboh merupakan seorang petani yang rajin bekerja hingga lupa waktu. Bahkan jarang pulang hingga tidur di ladang. Namun demikian, dia memiliki seorang istri yang setia, dan setiap hari mengirim makanan ke ladang.

Lantaran ladang yang luas dan berbukit, sang istri hanya bisa mendengar perintah suaminya dari kejauhan. Mbah Gembloh hanya menyuruh istrinya meletakkan makanan itu di gubung. Kondisi ini lambat-laun membuat istrinya penasaran. Sebab, istrinya hanya mendengar suara mbah Gembloh tapi tidak pernah melihat perwujudannya.

Meras penasaran, istrinya lantas mengintip dari balik sebuah batu besar. Dalam hati dia berharap melihat suaminya. Namun, alangkah terkejutnya, ada sosok mengerikan yang menghampiri gubuk dan melahap makanan yang disajikan untuk suaminya. Dia berpikir bahwa Mbah Glemboh telah berubah menjadi raksasa dengan taring yang sangat panjang mengerikan. Karena ketakutan, isteri Mbah Glemboh lari pulang dan melaporkan apa yang dilihatnya kepada warga desa.

Warga sepakat untuk menangkap Mbah Glemboh. Dengan senjata seadanya, mereka berangkat ke Hutan Brenggolo untuk menangkap Mbah Glemboh. Sesampainya di hutan Brenggolo warga mengepung dan mengejar Mbah Glemboh. Tidak mau melukai warga desa, Mbah Glemboh lari. Dengan kesaktiannya, Mbah Gembloh terbang ke arah barat Hutan Brenggolo.

Tidak mau menyerah, warga terus mengejar. Mbah Glemboh hinggap di pohon winong yang terletak di sebelah barat Dusun Gendayakan. Merasa dikejar warga, Mbah Glemboh terbang ke selatan dan jatuh di Ladang Kedokan. Warga tak hanya berhenti sampai disitu. Warga terus mengejar, Mbah Glemboh lari dan memanjat sebatang pohon kelapa. Dengan kesaktiannya, mengambil pelepah daun kelapa yang digunakan untuk terbang ke arah barat.

Namun Akhirnya Mbah Glemboh jatuh di Hutan Larangan. Hutan ini angker dan jarang dimasuki orang. Di tengah hutan ini terdapat luweng atau goa yang sangat dalam. Di dekat luweng itulah Mbah Glemboh jatuh beserta pelepah daun kelapa yang digunakannya untuk terbang.

Warga yang mengetahui Mbah Glemboh jatuh tersebut semakin semangat untuk mengejar dan siap untuk menyerangnya. Namun ternyata Mbah Glemboh yang telah jatuh di pinggir luweng berubah menjadi sebongkah batu. Warga desa yang heran dan bingung akhirnya sepakat untuk membuang batu jelmaan Mbah Glemboh ke dalam luweng.

Mereka beramai-ramai mengangkat dan melempar batu tersebut ke dalam luweng. Namun batu yang di lempar tidak jatuh hingga ke dasar, tetapi berada di tengah tengah luweng. Warga desa tidak bisa berbuat banyak, akhirnya pulang dan menganggap Mbah Glemboh telah mati. Untuk mengenang Mbah Glemboh, luweng tersebut disebut Borampo (dari kata mabur dan ampuh, artinya terbang dan sakti). Hingga sekarang dikenal warga sebagai Borampo.

Dijelaskan Suyadi, Luweng Borampo saat ini menjadi tempat tirakat dan ritual bagi mereka yang tengah bermasalah dengan hukum. Banyak yang lelaku triakat pada akhirnya lolos dari jeratan hukum.

Seiring perkembangan waktu, Hutan Brenggolo telah berubah telah berubah menjadi areal ladang penduduk tanpa mengalami perubahan nama. Sedangkan ladang Kedokan tempat jatuhnya Mbah Glemboh, terlihat batuan yang berupa tanah yang cekung seperti bekas kejatuhan benda yang besar dan keras. Namun Pohon Winong tempat hinggap Mbah Glemboh sudah tidak ada karena tumbang dan lapuk dimakan usia.

“Percaya atau tidak tergantung bagaimana kita menyikapinya,” kata Suyadi.

Editor : Wahyu Wibowo

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge