0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Parfum Jenis Baru: Aroma Bau Tanah!

Timlo.net – Seniman Jatiwangi, Julian Abraham, bersama sejumlah peneliti dari Sekolah Ilmu Teknik Hayati ITB mengembangkan parfum dengan aroma bau tanah. Menurut Julian, aroma bau tanah sebenarnya sudah ada secara alamiah.

Aroma ini dapat dicium saat turun hujan, ketika tanah yang kering akibat kemarau kemudian tersiram air maka akan timbul bau yang segar. Bau segar itulah yang ingin diciptakan Julian dkk.

Dari penelitian, kata Julian, diketahui bahwa mikro organisme yang bertanggung jawab menimbulkan bau tanah adalah geosmin. Geosmin sendiri dihasilkan mikroorganisme yang tinggal di tanah seperti jamur-jamuran, venisilium, dan lain-lain.

Kalau kena air, geosmin akan merilis baunya ke udara. Nah yang tertangkap oleh panca indra saat rilis tersebut adalah bau tanah dari geosmin, terang Julian, saat berbincang di Jatiwangi Art Factory (JaF), baru-baru ini.

Pengalaman Julian dengan sains didapat ketika ia bergabung dengan Komunitas Media Art Universitas Gajah Mada. Komunitas ini menggabungkan seni dan sains. Bau tanah, lanjut alumni Institut Teknologi Medan ini, dapat dicium jika kandungan geosminnya minimal 5 ppm.

Dengan kandungan sekecil itu, hidung manusia sudah bisa menciumnya. Menurutnya, hidung manusia dan makhluk lainnya di dunia sudah akrab dengan geosmin.

Bau geosmin di seluruh dunia sama atau identik. Perbedaannya hanya pada pengaruh alam di mana geosmin itu berada.

Contohnya jika di kebun pinus, bau geosmin akan terpengaruh akar pinus. Begitu juga jika di hutan karet, mahoni dan lain-lain.

“Tapi bau geosminnya sendiri identik,” kata pria 28 tahun ini.

Banyak hewan yang memanfaatkan geosmin sebagai tanda untuk mencari sumber mata air. Misalnya unta dalam radius lima kilometer sudah bisa mencium bau geosmin.

“Geosmin sebagai sinyal, kalau ada geosmin ada air,” katanya.

Ia kemudian menunjukkan parfum dengan aroma bau tanah tersebut. Meski masih perlu dimatangkan dalam penelitian, parfum berwarna bening tersebut sudah memiliki aroma bau tanah, aroma yang biasa muncul saat musim hujan tiba.

Kendati demikian, parfum tersebut masih harus disempurnakan mengingat masih terdapatnya aroma alkohol. Bahan parfum geosmin diambil dari tanah sisa-sisa pembuatan keramik atau genteng di Jatiwangi. Tanah Jatiwangi direbus dahulu kemudian melewati proses fermentasi dan distilasi.

Setelah itu, hasil proses tersebut dibawa ke labolatorium SITH ITB untuk dikembangkan menjadi parfum. Proses pembuatan parfum belum bisa dilakukan di Jatiwangi mengingat masih terkendala peralatan labolatorium.

Di labolatorium, dilakukan pembiakan mikroorganisme. Sedangkan hasil destilasi tanah diikat dengan minyak nilam. Selama destilasi dilakukan proses kondensasi atau penguapan. Proses destilasi dilakukan sampai tujuh agar menghasilkan bau yang melekat.

Proses awal tersebut berlangsung selama empat minggu. Setelah itu proses masih belum selesai, masih banyak rangkaian penelitian untuk menghasilkan aroma parfum yang kuat dan tahan lama.

“Harus dicari komposisi biar tahan lama, misalnya bisa harum selama 24 jam,” jelasnya.

Rencananya, jika uji coba ini sukses menghasilkan parfum bau tanah, proses selanjutnya adalah produksi masal dan pemasaran.

“Namanya mungkin parfum bau tanah. Dan lucu banget kan ada istilah bau tanah di Indonesia dan kita tidak punya bentuknya,” ujar dia.

[has]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge