0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Tak Ikut SRI, Banyak Petani “Gelo”

Panen raya di Karangpandan, Karanganyar (dok.timlo.net/nanang rahadian)

Karanganyar — Banyak perbedaan mendasar dari cara tanam metode SRI (system of rice intensification) dengan cara tanam konvensional. Meski awalnya sulit mengajak petani beralih menggunakan sistem ini namun hasil yang menggembirakan agaknya bakal memepengaruhi banyak petani.

“Banyak petani  yang tidak ikut sistem ini, gelo (kecewa) setelah melihat hasilnya,” kata Kepala Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Karangpandan Priyanta, Rabu (11/11).

Priyanta menjelaskan, banyak hal yang berbeda antara penanaman padi dengan metode SRI dan metode biasa. Pada metode SRI, benih yang ditanam masih berusia muda yakni 7-12 hari. Berbeda dengan metode biasa, di mana benih yang ditanam berusia 21 hari ke atas.

Pemakaian benih per hektare juga irit, hanya 10 Kg. Sementara untuk metode biasa, per hektare lahan bisa menghabiskan benih hingga 30 Kg.

“Pengairannya berselang, sehingga padi tidak selalu terendam air. Pemakaian pupuk juga berimbang, antara kimia dan organik. Cara tanam, jarak tanam dan umur benih, jadi salah satu faktor penentu keberhasilan panen,” ujarnya.

Camat Karangpandan Aji Pratama Heru K menambahkan, penerapan metode SRI diharapkan bisa meningkatkan kesejahteraan petani. Sebab, hasil panennya lebih banyak dibandingkan metode biasa.

“Hasil panen meningkat 40 persen dibanding hari biasa. Kami berharap, metode ini juga bisa diterapkan oleh petani lain  yang saat ini masih menggunakan sistem konvensional,” jelasnya.

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge