0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Penjualan Ratusan Ketam Tapak Kuda Digagalkan Polisi

merdeka.com

Polda Sumsel berhasil mengamankan 308 ekor Ketam Tapak Kuda

Timlo.net — Setelah melakukan penyelidikan selama empat bulan, jajaran Subdit Tipiter Ditreskrimsus Polda Sumsel akhirnya berhasil mengamankan 308 ekor Ketam Tapak Kuda (Blangkas) beserta 38 kilogram telurnya. Satwa dilindungi itu rencananya akan dijual pemiliknya ke Aceh dan Medan.

Kasubdit IV Tipter Ditreskrimsus Polda Sumsel Kompol Tulus Sinaga mengungkapkan, barang bukti ditemukan dalam sebuah penggerebekan di sebuah ruko milik Yusmitra yang beralamat di Perumahan Tanjung Harapan Indah, Kelurahan Talang Keramat, Kecamatan Talang Kelapa, Kabupaten Banyuasin, Kamis (5/11).

Saat ditemukan, satwa tersebut sudah dalam keadaan mati yang didinginkan menggunakan es dan disimpan di sejumlah kotak fiber. Sementara telurnya disimpan di polyfoam.

“Kita selidiki selama empat bulan. Hasilnya memang ada barang bukti saat digerebek,” ungkap Tulus, Senin (9/11).

Dari keterangan pemilik, satwa dan telurnya itu dibeli dari para nelayan yang berada di perairan Sungsang Banyuasin dengan harga Rp 9 ribu-Rp 30 ribu per Kilogram. Kemudian, pemilik rencananya akan dijual ke Medan dan Aceh.

“Informasinya, satwa itu akan dikonsumsi karena bisa digunakan untuk obat,” kata dia.

Anehnya, sambung Tulus, pemilik mengaku mengantongi ijin dari Dinas Perikanan Provinsi Sumsel dalam usaha jual beli satwa tersebut. Namun, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumsel menegaskan bahwa satwa tersebut dilarang keras dijualbelikan karena masuk dalam golongan satwa yang dilindungi.

“Ini masih kita koordinasikan lagi,” ujarnya.

Dijelaskannya, Ketam Tapak Kuda ini di kalangan para nelayan juga dikenal sebagai hama. Sebab, satwa ini kerap merusak jaring-jaring nelayan. Namun, begitu tahu satwa ini bernilai tinggi, para nelayan mulai menangkapnya.

“Satwa ini diketahui ada empat jenis yang hanya ada di perairan Asia Tenggara dan Amerika Utara,” sambungnya.

Pemilik akan dikenakan Pasal 40 ayat (2) jo Pasal 21 ayat (2) huruf b Undang-undang Nomor 5 tahun 1990. Pasal ini dikenakan karena dianggap menyimpan dan memiliki satwa yang dilindungi dalam keadaan mati.

[ren]

Sumber : merdeka.com

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge