0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

92 Tahun, Pekerjaan Rumah Persis Solo Masih Segunung

timlo.net/aryo yusri atmaja

CEO Persis Solo, Paulus Haryoto memotong tumpeng dengan dikelilingi mantan pemain Persis Solo masa lalu.

Solo — 92 Tahun sudah usia klub sepak bola Persis Solo terlewati. Peringatan secara seremonial dilakukan jajaran pengurus, pemain, suporter, hingga mantan pemain klub berjuluk Laskar Sambernyawa ini di Balai Persis Solo, Minggu (8/11).

Pemotongan tumpeng dan peresmian sebuah toko merchandise yakni Persis Store, menjadi agenda utama rangkaian memperingati hari lahirnya Persis Solo. Namun demikian, pihak pengurus Persis masih memiliki pekerjaan rumah terkait peringatan hari jadi salah satu klub tertua di Indonesia ini.

Adalah tanggal lahir berdirinya klub yang bernama Vorstenlandsche Voetbal Bond yang saat ini sebenarnya masih belum valid betul. Tahun lalu suporter Persis Solo menemukan tulisan pada sebuah media di Utrecht Belanda yang sudah lama, bahwa Persis didirikan 8 November 1923. Banyak pihak meyakini tanggal tersebut sebagai hari lahirnya Persis Solo.

Namun demikian, data tersebut tampaknya masih belum kuat mengingat di klub Persis sendiri tak memiliki bukti bahwa Persis lahir pada tanggal tersebut. Seperti misalnya, satu dari sekian trofi di Balai Persis Solo, ada yang tertera sebelum tanggal 8 November 1923.

“Secara yuridis kami belum punya fakta. Tapi melalui media dan teman-teman suporter, 8 November 1923 merupakan hari lahir Persis Solo. Berdasarkan sumber itu, kami akan melakukan upaya konkret agar secara tegas dan valid bahwa tanggal itu merupakan hari lahirnya Persis,” ujar Ketua Umum Asosiasi PSSI Kota Solo sekaligus CEO Persis Solo, Paulus Haryoto, Minggu (8/11) siang.

Pihaknya akan meminta bantuan dari Kedutaan Besar baik Indonesia maupun Belanda, untuk mencari data yang benar-benar valid soal tanggal lahirnya Persis Solo. Setidaknya biar semua pihak pecinta Persis Solo mengetahui yang sebenar-benarnya. Karena klub ini tidak bisa dipisahkan dari sejarah lahirnya PSSI.

Terlepas dari hal itu, di usianya yang sudah hampir mendekati angka 100 tahun, Persis Solo diharapkan mampu kembali bangkit di jajaran tim papan atas Indonesia. Persis sendiri sempat mengalami kejayaan itu dengan bukti tujuh kali menjuarai kompetisi perserikatan di era 1930-an silam. 80 tahun lebih merupakan waktu yang terlalu lama bagi Persis untuk bisa kembali sebagai sebuah tim elite.

“Jaman saya bermain di era tahun 60-an, setiap tim bermain untuk kebanggaan dan fanatisme kedaerahan. Kalau sekarang uang yang berbicara, memang sulit. Tapi saya yakin Persis Solo bisa kembali ke jajaran tim elite,” beber Sie King Tjong, pemain Persis Solo di era 1960-an.

Sementara itu, salah satu sesepuh suporter Persis Solo atau yang sering disebut Pasoepati, Prapto Koting berharap pengelolaan klub kebanggaan Wong Solo ini benar-benar serius. Dirinya berharap sebelum Persis melangkah di usianya yang ke 100 tahun, sudah bisa kembali ke kasta tertinggi seperti dulu.

“Sebelum menginjak usia 100 tahun, saya pribadi ingin Persis kembali ke asalnya dahulu. Sejajar dengan Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan di kompetisi kasta tertinggi,” ujar Prapto.

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge