0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Pembinaan Mental Diperlukan Agar ABH Tak Lakukan Tindak Kejahatan Lagi

timlo.net/achmad khalik

Kapolsek Laweyan, Kompol Agung Nugroho (kanan) saat menunjukkan tersangka, NAP (biru) beserta barang bukti kejahatan

Solo — Tak menutup kemungkinan, tindak kejahatan yang dilakukan oleh anak akan berulang terus menerus. Hal ini, dikarenakan anak bermasalah hukum (ABH) tidak mendapatkan pembinaan mental dan perilaku yang benar. Disamping itu, faktor lingkungan juga berperan penting dalam tindak kejahatan yang dilakukan seorang ABH.

“Pembinaan mental dan perilaku ini sangat diperlukan. Supaya anak tidak kembali arah negatif,” tutur Direktur Yayasan ATMA Solo Malki Kura saat dihubungi wartawan, baru-baru ini.

Dikatakan, pembinaan atau hukuman terhadap anak jangan sampai menggunakan kekerasan. Ini berakibat pada perilaku anak untuk melawan kekerasan yang dilakukan padanya. Sehingga, berdampak pada aksi melawan hukum. Berdasarkan data ATMA Pada 2013, terdapat 36 anak bermasalah hukum yang mendapatkan pendampingan dari Yayasan ATMA. Sebanyak, 11 di antaranya mengulangi lagi kejahatannya.

“Anak-anak jangan dihukum dengan kekerasan, karena mereka akan melawan dengan kekerasan lebih keras lagi,” tuturnya.

Dia juga mengatakan perilaku pengulangan diilakukan lantaran mereka juga menerima pengaruh buruk dari Lapas. Langkah diversi untuk anak-anak selama ini berjalan hanya sebatas formalitas dan pemberian ganti rugi. Substansi dari diversi, menurutnya belum tersentuh sama sekali. Kesalahan ini yang membuat ABH mengulangi lagi tindak kriminalnya.

“Negara perlu turut serta mengawasi, kalau diversi tanpa tindak lanjut tidak akan merubah perilaku dan mental anak,” tandasnya.

Sementara terkait pendampingan anak yang menjadi residivis NAP (17) warga Gumpang, Kartasura, Sukoharjo, yang tertangkap Polsek Laweyan beberapa waktu lalu, Aktivis Yayasan ATMA Adi Cahya mengatakan, akan memberikan pendampingan Psikolog. NAP diberi pendampingan psikolog lantaran telah melakukan tindak kriminal berulang kali. Meski memberi pendampingan seorang psiokolog tidak menjamin perubahan sikap 100 persen. Namun ada upaya untuk memenuhi kebutuhan mental anak tersebut.

“Anak ini butuh pendamping psikolog, kita mempertimbangkan kebutuhan mentalnya, karena dia berkali-kali melakukan tindak kriminal,” tuturnya.

Terkait kelanjutan kasus NAP, kasus tersebut telah memasuki proses persidangan. Sidang kedua kasus NAP akan digelar Senin (9/11) depan. Sidang dilaksanakan tertutup untuk umum lantaran pelaku masih di bawah umur.

Editor : Wahyu Wibowo

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge