0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Seni Batik Wonogiren, Sentuhan Corak Kearifan Lokal

Batik Wonogiren, seorang warga Tirtomoyo tengah melakukan proses pewarnaan (dok.timlo.net/tarmuji)

Wonogiri — Tak hanya kaya akan sumber daya alamnya, Wonogiri juga memiliki seni budaya yang beraneka ragam. Salah satunya seni batik. Bahkan warisan adiluhung ini sudah diakui oleh Unesco sebagai Warisan Kemanusian Untuk Budaya Lisan dan Non Bendawi sejak tahun 2009. Adalah seni Batik Wonogiren,dengan ciri tersendiri, melebur dengan budaya masyarakat Wonogiri yang kental akan budaya Jawa.

Corak Batik Wonogiren diilhami dari kearifan lokal. Dengan karakter khas pada motif dan corak kain batik. Ciri khas ini ditandai pada corak pecah-pecah pada kain batik yang dihasilkan.

Pembuatan batik Wonogiren dimulai dari pemilihan kain berbahan kapas, kain katun, serat nanas, kain paris, dan bisa juga dengan kain sutera. Selanjutnya kain ini akan dipersiapkan untuk pembuatan batik sesuai dengan teknik pembuatan. Ada tiga teknik pembuatan Batik Wonogiren yaitu, batik tulis, batik cap, dan batik cap kombinasi.

Batik tulis merupakan teknik pembuatan batik yang paling kuno dan ekslusif. Yaitu dengan menorehkan langsung pada kain menggunakan alat membatik atau dikenal dengan sebutan canting.

Batik cap merupakan teknik pembuatan dengan menggunakan media cap motif. Cap ini berasal dari bahan tembaga yang sudah membentuk motif batik tertentu. Batik cap kombinasi merupakan teknik pembuatan batik Wonogiren dengan menggabungkan antara teknik batik cap dan teknik batik tulis.

Setelah proses pemberian pola motif selesai, akan dilanjutkan dengan pewarnaan motif yang telah dibuat. Pemberian warna ini untuk membentuk motif batik semakin beragam dan lebih dinamis. Proses  selanjutnya adalah  menutup kain dengan menggunakan cairan lilin atau malam. Pada proses inilah merupakan kunci dan ciri khas batik Wonogiren. Yaitu dengan meremas kain sehingga membentuk pola pecah-pecah pada kain. Pola pecah-pecah ini akan tampak setelah proses pencelupan warna kain.

Setelah semua pola dan motif pecah-pecah sudah di peroleh, maka proses selanjutnya adalah pencelupan warna. Pewarnaan ini disesuaikan dengan pesanan atau desain yang diinginkan. Dengan pengaruh budaya luar yang masuk di nusantara, warna batik saat ini semakin beragam dan menarik, tidak lagi didominasi oleh warna coklat ataupun gelap.

Proses selanjutnya adalah pelorotan malam. Proses ini untuk melarutkan lilin atau malam yang menempel pada kain batik. Kegiatan ini dilakukan dalam bak berisi air yang mendidih sampai lilin yang menempel larut seluruhnya.Semua proses pembuatan batik diakhiri dengan penjemuran kain batik. Proses ini memerlukan bantuan sinar matahari yang cukup hingga kain kering.

Batik Wonogiren telah dikembangkan dalam produk fashion yang modern, mulai dari kemeja, gaun, hingga busana casual yang trendi. Aneka produk batik Wonogiren menjadikan nilai tambah semakin meningkat.Ada beberapa kecamatan yang saat ini menjadi sentra-sentra batik Wonogiren.

Seperti Daryono, salah satu pelaku usaha kecil produsen batik Wonogiren yang ada di Kecamatan Tirtomoyo ini. Sejak 2010 silam, dia memulai merintis usaha ini. Awalnya usaha yang dilakoni hanya bermodal minim, bahkan pengetahuan tentang batik pun, ia peroleh dengan cara otodidak, yakni berdasar pengalamannya semasa masih bekerja disalah satu pabrik di Kota Solo. Namun, dengan kegigihannya, kini batik Wonogiren yang ia tekuni dapat berkembang,hingga menjadi mata pencaharian keluarga dan warga sekitarnya.

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge