0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Dari Kawasan Tandus, Kini Penghasil Sayuran Sehat

timlo.net/heru murdhani

Lurah Mojosongo, Agus Triono menunjukkan sayuran hasil pengembangan ibu-ibu PKK

Solo – Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres memang terkenal dengan daerah yang tandus, dan kerap terjadi kekeringan jika kemarau tiba. Namun siapa sangka, kelurahan tersebut membudidayakan tanaman sayur organik, dengan program kebun sayur rumahan.

Menyusuri jalanan kampung di RW 37 Kelurahan Mojosongo, membuat siapa saja akan merasa segar. Berderet tanaman sayur seperti Seledri, Kembang Kol, Lombok, Tomat dan Terung, Sawi, Kangkung, dan Selada ditata berjajar di sepanjang jalan. Penataannya juga menarik, sayuran yang ditanam dalam polybag itu ditata berderet dan disusun bertumpuk. Selain dipinggir jalan, beberapa petak lahan pekarangan warga juga dimanfaatkan untuk budidaya tanaman hortikultura ini.

“Dulu pertama kali dikembangkan program ini dilakukan oleh mahasiswa yang sedang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata dari Universitas Sebelas Maret. Kemudian dikembangkan oleh warga dan ibu-ibu PKK untuk menjadi usaha kebun rumahan,” ungkap Ketua Tim Penggerak PKK, RW setempat, Sulasmi, Rabu (4/11).

Dari situ program ini terus dikembangkan. Dengan bantuan dari Rumah Zakat Indonesia, Sulasmi sejak tahun 2013 berupaya untuk merangkul anggotanya membudidayakan tanaman sayur ini. Hasilnya tidak main-main, selain mampu mencukupi kebutuhan rumah tangga masyarakat akan kebutuhan sayuran sehat, penduduk yang terdiri dari 240 KK tersebut mampu meraup penghasilan tambahan dari penjualan sayur dan bibit.

“Ya, lumayan Mas, sayurnya bisa dikonsumsi sendiri, atau dijual. Tapi penjualan masih dalam skala kecil. Selain itu untuk upaya pembibitan kita juga mengusahakan sendiri, dan sudah mulai dijual bibit-bibit itu ke beberapa kelurahan lain yang menginginkan program serupa,” paparnya.

Dia menceritakan program ini secara penuh bisa diterima masyarakat, lantaran kesadaran akan lingkungan sehat. Menurutnya yang terletak di kawasan belakang kampus ISI Mojosongo tersebut, tergolong tandus. Dengan program ini, suasana kampung tampak lebih hijau dan lebih segar dipandang.

“Cuaca panas, kondisi lingkungan tandus, tapi bagaimana kita bisa memperbaiki lingkungan dengan program ini, dulu pertamanya hanya seperti itu, kemudian setelah bisa mendapatkan untung dari penjualan bibit tanaman, semakin banyak yang berminat, bahkan banyak juga kelurahan lain yang mengirimkan kader-kadernya untuk ikut belajar bersama disini,” ungkap dia.

Tak berhenti sampai disitu, untuk menjaga kualitas sayur organik produksi mereka, Sulasmi juga memproduksi pupuk kompos sendiri. Bahan bakunya didapatkan dari sisa sampah rumah tangga yang dikumpulkan warga setempat, dalam bentuk Bank Sampah. Sampah organik dikumpulkan menjadi satu dan diolah untuk kemudian dibagikan kepada warga dalam bentuk pupuk. Sedangkan sampah non organik dijual melalui pengepul pemulung.

“Dengan penjualan sampah non organik itu kita mendapatkan uang untuk pengolahan pupuk, yang kemudian kita bagi untuk warga juga,” katanya.

Sayang, program ketahanan pangan ini masih belum mendapatkan perhatian serius dari pemerintah Kota Solo. Sehingga warga belum mendapatkan bantuan baik berupa pelatihan pertanian, maupun suntikan modal untuk pengembangan usaha ini.

Sementara Lurah Mojosongo, Agus Triono mengatakan, dirinya mendorong program tersebut untuk dikembangkan di tiga RW, yakni RW 37, RW 36, dan RW 35. Dia bercita-cita program kebun sayur rumahan ini mampu menciptakan lingkungan yang sehat dan membawa dampak ekonomi yang positif bagi masyarakat.

“Saya ingin kalau Mojosongo ini bisa menjadi sentra penghasil sayur untuk wilayah Solo, memang masih jauh dari harapan, tetapi bukan tidak mungkin untuk diwujudkan,” harapnya.

Editor : Wahyu Wibowo

loading...


Komentar Anda

KEMBALI KE ATAS badge