0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

TimloMagz

Pertahankan Eksistensi Wayang Klithik

foto: Aditya

Wayang Klithik

Timlo.net – Air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga. Peribahasa itu tepat menggambarkan sosok Khotib Febi Mistar, salah seorang perajin Wayang Klithik yang masih bertahan hingga sekarang.

Mengunjungi kediamannya di gang Kresna di Dukuh Gemampir, Desa Gemampir, Kecamatan Karangnongko, Klaten, sangat mudah dijumpai. Sebuah patung Semar yang berdiri diatas pagar dan bengkel kerja berwarna merah bernuansa Jawa terlihat mencolok dibanding rumah warga lainnya.

Saat ditemui TimloMagz, pria kelahiran Klaten, 23 Februari 1985 ini tengah sibuk mengecat potongan kayu berpola untuk tangan wayang yang berserakan di mejanya. Meski berbeda bahan, pro­ses pewarnaannya hampir mirip dengan para lakon Wayang Purwo yang berwarna dasar coklat keemas-emasan layak­nya kulit manusia.

“Ini sedang mengerjakan pesanan Museum Majapahit, Trowulan, Mojo­kerto. Mereka pesan dua paket untuk dipajang di museum dan pementasan Wayang Klithik,” ucap ayah beranak satu ini.

Bak dalang, Khotib lantas mence­ritakan seluk beluk Wayang Klithik dan perbedaanya dengan Wayang Purwo. Bila dilihat dari cerita yang dilakonkan, Wayang Purwo atau yang biasa kita kenal dengan wayang kulit ini merupakan saduran dari cerita Mahabarata atau Ramayana. Sementara cerita yang diangkat Wayang Klithik berasal dari Serat Damarwulan di era kerajaan Majapahit.

“Kalau Wayang Purwo kita mengenal sosok Pandawa, Kurawa dan sebagai­nya. Sedangkan penokohan di Wayang Klithik diantaranya, Damarwulan, Menak Jingga, Sabda Palon dan Naya Genggong, hingga Patih Udara,” ceritanya.

Disebut Wayang Klithik, beber Khotib, lantaran menimbulkan bunyi klithikan atau klithik-klithik ketika tokoh wayang-wayang itu berbenturan saat dimain­kan sang Dalang. Sementara dilihat dari bentuknya, Wayang Klithik memiliki ukuran lebih kecil dari Wayang Kulit. Maka tak jarang orang menyebutnya Wayang Krucil atau Kecil. Sedangkan untuk ba­hannya dari kayu sengon lantaran mudah didapatkan dan empuk saat dikerjakan.

“Yang ukurannya kecil, 25-30 cm, satu pasang Rp 150 ribu plus gawangannya. Sedangkan ukuran yang medium 40-60 cm, satu wayangnya Rp 200 ribu, dan yang besar sesuai ukuran Wayang Kulit. Sebab jika terlalu besar kasihan Dalangnya, pegal mas ngangkat kayu. Karena wayang ini tidak menggunakan cempurit (tangkai Wayang Kulit yang biasanya berbahan tanduk kerbau-red). Maka untuk mengakalinya dilapisi kulit,” beber suami dari Surani.

Tak dapat dipungkiri, lanjut dia, pamor Wayang Klithik kalah dibanding wayang jenis lainnya. Permintaan dari Dalang untuk melakonkan Serat Damarwulan mulai meredup diterpa zaman. Akhirnya Khotib memproduksi Wayang Klithik sebagai souvenir. Selain itu, dia berinovasi membuat karakter tokoh wayang yang dapat dimodifikasi sesuai dengan keinginan.

“Harus mengikuti tren zaman. Konsepnya, menghidupkan angan-angan dalam bentuk dimensi Wayang Klithik. Jadi harga-harga satuan tersebut untuk segala tokoh dan lakon wayang. Bisa juga membuat perwajahan manusia jaman sekarang,” lanjutnya seraya menunjukkan pesanan wayang ‘kekinian’ dari Pemkot Semarang.

Meski sudah lima tahun mengibarkan Sanggar Pandawa, Khotib masih takut menyanggupi pesanan dalam jumlah partai besar. Keterbatasan tempat produksi dan sumber daya manusia menjadi kendala. Akibat­nya, sekitar dua pekan lalu dia menolak kerjasama produksi 800 pasang Wayang Klithik dari negara Slovenia di belahan benua Eropa.

“Melalui broker saya, mereka minta dibuatkan lakon yang perwajahannya Wayang Purwo. Kontrak kerjanya 3 bulan, tapi kalau telat sehari kena denda. Padahal perajin disini yang sering saya ajak borongan ada 15 orang. Mereka kerjanya sambilan, tidak full seperti saya. Daripada kena denda, ya lebih baik saya tolak pesanan dari Slovenia itu,” ungkapnya.

Namun demikian Khotib tetap optimis melebarkan usahanya. Selain melestarikan Wayang Klithik, dia berkeinginan merangkul perajin di desanya agar terbentuk sebuah paguyuban dan desa wisata. Sehingga seni pewayangan Klithik tidak musnah ditelan zaman.

“Kalis ing sambikolo. Artinya, terhindarkan semua dari marabahaya. Intinya mencari keselamatan. Ya selamat Wayang Klithiknya, ya selamat pelaku seninya,” tutupnya.

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge