0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Pesona Pantai Sembukan, Gerbang Ke-13 Kerajaan Ratu Kidul

foto: Tarmuji

Pantai Sembukan

Wonogiri – Terletak di sisi selatan berbatasan dengan samudra Hindia,Pantai Sembukan menawarkan keindahan alam yang cukup eksotis. Berjarak 60 kilometer dari kota Wonogiri, perjalanan menuju lokasi memakan waktu dua jam.

Obyek wisata alam ini masuk wilayah Desa Paranggupito, Kecamatan Paranggupito. Pesona keindahan pantai pasir putih dan jajaran batu karang yang dilengkapi dengan ombak yang menawan. Akses menuju lokasi sangat mudah, jalan sudah mulus. Sedang didalamnya ada sejumlah fasilitas ,seperti masjid, paseban, dan sanggar. Kabupaten Wonogiri merupakan satu-satunya Kabupaten/kota di wilayah Surakarta yang memiliki pantai.

Pantai Sembukan terkenal sebagai pantai ritual yang ramai dikunjungi orang untuk bermeditasi dan ngalap berkah. Disamping itu juga ada tempat peribadatan yang ada di puncak gunung yang terletak tidak jauh dari bibir pantai.
Setiap tahun, Pemkab Wonogiri dan warga masyarakat Paranggupito menggelar semacam ritual Labuhan Ageng, yakni melabuh atau melarung kepala kerbau dengan “uba rampe” (perlengkapan-Red) sesajen. Ritual Labuhan Ageng ini dimaksudkan untuk memohon keselamatan dan ketentraman bangsa dan negara.

Dalam acara ini juga dipentaskan tarian sakral yaitu Tari Bedoyo Parang Kencono dan pagelaran wayang kulit semalam suntuk. Sebagai wisata ritual, pantai ini sarat dengan mitos Nyi Roro Kidul yang sudah mendarah daging pada masyarakat Jawa.

Sucipto (57) warga Desa Paranggupito, yang didaulat sebagai Ketua Pelestarian Dan Pengembang Adat Istiadat Budaya Paranggupito menuturkan, masyarakat setempat meyakini jika Pantai Sembukan merupakan Gerbang ke-13 Kerajaan Kanjeng Ratu Kidul, atau pintu yang akan dilewati Kanjeng Ratu Kidul untuk menemui Raja-raja Jawa (Kasunanan Surakarta atau Paku Buwono).

“Angka 13 memiliki makna tersendiri. Angka 13 merupakan perlambang yaitu angka 1 menggambarkan jalan menuju Pantai Sembukan yang jika dilihat dari atas merupakan angka 1 yang bermakna jalan lurus menuju satu tujuan. Kemudian angka 3 merupakan perwujudan 3 (tiga) tempat yang memiliki tingkat aura spiritual tinggi di Pantai Sembukan,” ujarnya.

Tiga tempat beraura spiritual tinggi, lanjut Sucipto, yaitu Gunung Buthak (Petilasan Raden Mas Said) yang dijadikan Padepokan Tri Sila Weda, Gunung Putri yang didirikan bangunan masjid sebagai tempat sembahyang, dan Paseban Gunung Pathuk Ngasem tempat spiritual para penggiat aliran kepercayaan. Ketiga lokasi ini sering dijadikan tempat ritual oleh masyarakat yang ingin bermeditasi memohon petunjuk Tuhan Yang Maha Kuasa.

“Sejarah Pantai Sembukan menjadi tempat ritual ini tidak bisa dilepaskan dari cerita perjuangan Raden Mas Said Sang Pendiri Praja Mangkunegaran di Surakarta.Pada masa perjuangan Raden Mas Said saat itu masih menjadi pimpinan sejumlah prajurit yang berkewajiban melindungi dan mengayomi seluruh prajurit punggawanya,”jelasnya.

Oleh karena itu, kata Sucipto, Raden Mas Said dalam menjelajah wilayah pedalaman, disamping bergerilya sekaligus mengunjungi tempat-tempat yang dianggap keramat untuk memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar diberikan kekuatan melindungi prajuritnya. Salah satu tempat yang dijadikan ritual adalah Gunung Buthak yang berada di Pantai Sembukan.

“Pada saat bermeditasi untuk menemui Kanjeng Ratu Kidul di Gunung Buthak, Raden Mas Said dikawal oleh abdi dalem bernama Ki Sodongso. Sebelum Raden Mas Said menuju puncak Gunung Buthak berpesan kepada Ki Sodongso agar menunggunya di pohon Ketapang dibawah gunung dan jangan sampai pergi sebelum dirinya turun dari Gunung Buthak,” katanya.

Setelah sekian lama bersemedi, akhirnya Raden Mas Said bisa bertemu dengan Kanjeng Ratu Kidul di alam gaib. Setelah pertemuan selesai, Kanjeng Ratu Kidul meminta kesediaan Raden Mas Said untuk diantarkan pulang ke Desa Nglaroh, kecamatan Selogiri melalui kekuatan gaib.

Dalam sekejap mata Raden Mas Said sudah pulang ke Nglaroh tanpa diketahui Ki Sodongso yang setia menunggunya di pohon Ketapang. Karena tidak mengetahui Raden Mas Said sudah mendahului pulang ke Nglaroh, Ki Sodongso tetap setia menunggu sampai akhirnya moksa, hilang menyatu dengan alam gaib di Gunung Buthak.

Melihat ada pengawal Raden Mas Said yang telah moksa di Pohon Ketapang, Kanjeng Ratu Kidul pun meminta Ki Sodongso untuk dijadikan pengikutnya dan diberikan tanggungjawab menjaga Pantai Sembukan dari hal – hal yang merusak alam.

Sampai saat ini keberadaan pohon Ketapang tempat moksa Ki Sodongso masih tumbuh dengan kokoh. Bahkan dipercaya memiliki kekuatan gaib, apabila peziarah atau pengunjung tidur ditempat tersebut dengan kaki mengarah ke pohon niscaya akan dipindah secara gaib ke tempat lain.

Setelah sekian lama, KGPAA Mangkunegara VII yang merupakan penerus Raden Mas Said mengikuti jejak dengan mengunjungi Pantai Sembukan setiap awal Bulan Sura dan menggelar upacara ritual memohon petunjuk Tuhan Yang Esa. Sambutan masyarakat di Paranggupito begitu luar biasa, karena sangat ingin melihat pembesar kerajaan Mangkunegaran berkunjung di Pantai Sembukan.

“Tradisi ini kemudian dikenal dengan Tetedhakan yang kemudian hari menjadi agenda ritual Labuhan Ageng Pantai Sembukan,” imbuhnya.

Editor : Dhefi Nugroho

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge