0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Sementara Waktu, Pendaki Jangan Naik 7 Gunung Ini

merdeka.com

Ganjar Pranowo saat blusukan ke Cemoro Sewu

Timlo.net – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo meminta jalur pendakian tujuh gunung yang ada di Jawa Tengah agar ditutup. Ganjar melarang sementara pendakian di tujuh gunung tersebut lantaran beberapa lerengnya terbakar.

“Yang menarik kobongan kabeh. Saya sudah usulkan di twitter kalau semua jalur pendakianya ditutup saja. Tapi di jawab di twitter, usum udan dilarang, ketigo (musim kemarau) juga dilarang. Lha kapan munggahe,” ucap Ganjar, Sabtu (31/10).

Ketujuh gunung yang terbakar itu di antaranya Gunung Merapi yang ada diperbatasan Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali dan Yogyakarta. Gunung Merbabu berada di perbatasan Kabupaten Semarang dan Salatiga, Gunung Menoreh di perbatasan antara Kabupaten Magelang dan Kulonprogo, Yogyakaraarta.

Kemudian, Gunung Ungaran di Kabupaten Semarang, Gunung Sindoro dan Sumbing berada di perbatasan Kabupaten Temanggung dan Kabupaten Wonosobo dan Gunung Andong di Kabupaten Magelang.

Menurut Ganjar, untuk Gunung Lawu terdapat pula tujuh jalur pendakian yang terdiri dari empat jalur pendakian resmi dan tiga jalur pendakian tidak resmi. Ganjar juga meminta supaya ketujuh jalur pendakian itu juga ditutup.

“Memang nggak kucing-kucingan tapi pintu masuknya ada 7 kalau nggak salah. 7 itu yang resmi itu cuman 4. Makanya itu ada orang bisa masuk lewat manapun. Makanya caranya ditulisi; Dilarang Mendaki. Pertanyaanya, sekarang kalau ada orang mendaki apakah pasti dia taat,” tegasnya.

Ganjar juga meminta masyarakat disekitar gunung, baik gunung Lawu maupun tujuh gunung di Jateng lainya untuk menjaga kebersihan.

“Maka saya sampaikan jagalah kebersihan. Sayangi hutan kita, siapa yang sayang hutan kita kalau kemudian dibakar,” ungkapnya.

Ganjar mendapatkan fakta bahwa sebanyak 80 persen kebakaran hutan diakibatkan oleh unsur manusianya bukan alamnya.

“Kalau kita tanya, kita cek ke temen-temen ini kebakaran hutan karena apa? 80 persen pasti karena ulah manusia. Tidak punya keterampilan, ceroboh, nggawe api unggun tidak dimatikan, tidak ada pembatasnya,” ujarnya.

Ganjar yang juga mantan Ketua Perkumpulan Pecinta Alam Majestic Universitas Gadjahmada (UGM) Yogyakarta itu seorang pendaki yang akan naik gunung harus mempunyai modal dasar ketrampilan. Tidak hanya unsur keberanian saja.

“Biasanya kalau saya dulu mendaki diajari dulu. Nek arep nggawe golek nggone sing roto. Jauh dari yang mudah terbakar. Dikasih garis dari batu kiri kananya. Api itu harus sudah mati pada waktu kita mau pergi. Sampahnya diturunkan dibawa turun lagi. Yang begitu-begitu sebenarnya etika pendaki itu. Kalau saya bisa merasakan karena mereka melakukan itu. Pada saat itu untuk menjaga keselamatan alam dan manusianya maka untuk disini sudah bagus ditutup disini,” tuturnya.

Terkait untuk jalur-jalur tikus pendakian yang sering digunakan diluar jalur resmi, Ganjar meminta adanya penjagaan yang dilakukan dengan kerjasama baik Perhutani sebagai leading sektor, TNI-Polri, tokoh masyarakat dan warga di masing-masing sekitar gunung.

“Kemudian untuk jalan-jalan tikus pendakian perlu dijaga. Maka pihak Perhutani saya minta untuk jadi leadingnya, kerjasama dengan pihak kelurahan, dengan camat dengan tokoh masyarakat. Dengan begitu kita pastikan aman,” jelas dia.

[gil]

Sumber: merdeka.com

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge