0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Jaga Aliran Air, Warga Gedaren Ngesat Umbul

dok.timlo.net/aditya wijaya
Tradisi Ngesat Umbul di Desa Gedaren, Jatinom, Klaten (dok.timlo.net/aditya wijaya)

Klaten —  Warga masyarakat Desa Gedaren, Kecamatan Jatinom, Klaten, melaksanakan ritual bersih sendang ‘Ngesat Umbul Gedaran,’ Sabtu (31/10) pagi. Tradisi warisan nenek moyang ini digelar setiap tahunnya di bulan Sura atau Muharram dalam kalender Hijriyah (Islam).

“Ritual ini wujud dari kami untuk memelihara sumber air yang ada di Desa Gedaren agar mata airnya terus mengalir,” kata warga setempat, Mustar Suharjo, Sabtu (31/10).

Ngesat atau menguras, kata Mustar, dilakukan dengan mengeringkan sumber mata air di Umbul Gedaren terlebih dahulu. Kemudian mengambil endapan pasir dan daun atau sampah yang menyumbat sumber air.

Uniknya, secara turun temurun hanya keluarga besar Karyo Dikromo yang boleh membersihkan di area sumber air. Pasalnya, Karyo Dikromo merupakan sesepuh yang menjaga kelestarian air di Umbul Gedaren. Sementara, para petani dan warga setempat membersihkan di area sungai agar dapat memperlancar aliran air umbul Gedaren menuju persawahan milik warga.

“Mitosnya, dulu Umbul Gedaren akan berubah menjadi lautan yang ditandai munculnya gereh pethek (ikan asin air tawar). Untuk mencegah agar aimya tidak meluap maka Umbul Gedaren ditutup dengan gong. Untuk menjaga gong tersebut, hingga kini setiap tahunnya di pertengahan bulan Sura terus dilakukan berbagai upacara tradisi,” ujar Mustar yang juga keturunan Karyo Dikromo.

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge