0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Golkar Gelar Silatnas, Ical dan Agung akan Berdamai?

Islah Golkar (dok.merdeka.com)

Timlo.net — Pascaputusan Mahkamah Agung (MA) yang membatalkan SK Menkum HAM yang mengesahkan kepengurusan Golkar di bawah Agung Laksono, dua kubu Golkar akan mengadakan Silaturahmi Nasional (Silatnas) pada Minggu (1/11) mendatang. Pertemuan tersebut diagendakan bakal dihadiri kubu Ical maupun Agung Laksono. Benarkah pertemuan ini akan membuat kedua kubu berdamai?

Pengamat politik dari Universitas Indonesia, Boni Hargens menilai, Silatnas tak akan jadi ajang damai yang awet bagi kedua kubu yang bersengketa. Meski mau tak mau harus dilakukan, Boni menganggap hal tersebut hanya sekedar upaya pemanis menjelang Pilkada serentak 2015.

“Enggak mungkin lah benar-benar damai. Ini kan hanya drama hadapi Pilkada saja. Nanti panas lagi,” ujar Boni saat dihubungi merdeka.com, Jumat (30/10).

Bagi Boni, hal terpenting yang harus dilakukan partai berlambang beringin itu ialah merumuskan ulang struktur pemimpin partai. Menurut Boni, jika Golkar tak ingin ada perpecahan internal lagi, maka harus mendepak Ical dari kursi pemimpin umum.

“Kalau Ical, Golkar makin rusak, makin hancur. Bisa-bisa enggak lolos Pemilu 2019. Yang paling penting refleksi kepemimpinan partai ke depan. Mengganti Aburizal dan bagaimana Golkar baru ke depan. Kalau Aburizal dipertahankan terus, Golkar akan tetap pecah. Itu yang harus mereka pikirkan di Silatnas, model kepengurusan Golkar baru ke depan,” tuturnya.

Boni berharap ada kesadaran kader Golkar untuk berani melucuti jabatan Ical. Sebab hal tersebut sama saja dengan keberanian untuk mencari solusi dengan menghilangkan biang masalah.

“Perpecahan ini kan diawali keresahan ideologis, ini partai kok mulai kehilangan ideologi. Persoalan-persoalan Golkar kan karena figur Ical. Hilangkan sumber masalahnya dong. Kalau tidak Golkar tidak akan rekonsiliasi. Jadi kalau mau menyelamatkan partai, kepemimpinan Pak Ical harus dibongkar ulang,” tegasnya.

Boni juga menjelaskan bahwa selama ini Ical mempunyai kepentingan politik dengan memanfaatkan kursi pimpinanya. Boni menuding Ical telah menjadikan Golkar sebagai bagian dari perusahaan keluarga. Ical memperlakukan Golkar seperti anak perusahaan Bakrie Group.

“Ini Golkar bekerja untuk Ical apa untuk bangsa? Ini sebenarnya keresahan dari kader. Konsekuensinya tidak ada model manajemen partai yang serius untuk membangun kader, untuk memperkuat posisi Golkar dalam politik, menghadapi Pilkada, menghadapi Pemilu. Ini kan kita bicara mana yang terbaik buat Golkar, bukan buat kita,” pungkasnya. [bal]

Sumber: merdeka.com

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge