0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Kebakaran Lawu, Isyarat Keterpurukan Negeri?

dok.timlo.net/nanang rahadian
Ki Buyut Lawu (dok.timlo.net/nanang rahadian)

Karanganyar — Musibah kebakaran Gunung Lawu yang menelan tujuh nyawa, dimaknai motifator spiritual Ki Buyut Lawu sebagai isyarat makin besarnya sengkala dan sukerta yang disandang bangsa dan negara Indonesia. Kedua aura spiritual negatif  inilah, menurutnya yang memicu makin terpuruknya segala aspek kehidupan. Selain Gunung Lawu yang berketinggian 3. 265 meter di atas permukaan laut (mdpl) tadi merupakan pusering tanah Jawa, gunung tertua di Pulau Jawa ini juga diyakini sebagai pusat laku spiritual religious.

“Gunung Lawu juga dipercaya sebagai tempat mukso  dua raja besar di tanah Jawa, Prabu Airlangga, (Raja Kediri Lama –Red) dan Prabu Brawijaya V (Raja Majapahit terakhir —Red),” kata Ki Buyut Lawu yang juga Ketua Komunitas Kiai Damar Sesuluh (Spirit Religious, Cultural & Education), Kamis (29/10).

Tak heran bila gunung yang termasuk  Seven Summits of Java (Tujuh Puncak Tertinggi di Pulau Jawa –Red) ini, sejak zaman sebelum era Majapahit sampai saat ini tetap disakralkan. Gunung di perbatasan Jawa Tengah-Jawa Timur ini, juga mendapat julukan gunung terangker di Indonesia. Selebihnya juga menjadi tempat laku spiritual nggayuh wahyu keprabon para tokoh besar Nusantara. Mulai Presiden Soekarno, Soeharto, Gus Dur, Susilo Bambang Yudiono dan lainnya.  Itulah sebabnya, setiap gejolak yang terjadi di Gunung Lawu, dianggapnya bukan kejadian alam biasa.

“Musibah kali ini, lebih merupakan isyarat tiwikromo Gunung Lawu yang harus ditangkap dengan weninging pikir maupun beninging dzikir dan dimaknai dengan kawaskitaning spiritual religius,” kata Ki Buyut Lawu.

Dijelaskan, gejolak alam yang dalam bahasa agama disebut ayat-ayat kauniyah-Nya, merupakan isyarat atau sasmita ketimpangan maupun ketidakseimbangan  jagad gedhe (makrokosmos). Penyebabnya, tak lain karena ulah manusia yang tak lagi menghiraukan pranatan hidup serta kehidupan.

Karena ulah manusia yang nalingsir dari fitroh jati dirinya itu pula, lanjut motifator spiritual yang juga akrap disapa Ki Panji Koeswening ini, menjadi penyebab utama makin tingginya sengkala dan sukerta, pemicu keterpurukan segala aspak kehidupan bangsa dan negara kita tercinta. 

“Ini merupakan pepeling kepada umat manusia agar tidak melalaikan tugas dan tanggungjawabnya sebagai khalifah di muka bumi, sebagaimana amanat yang diberikan Allah kepada setiap hamba-Nya,” jelas Spiritualis Karanganyar.

Menurut konsultan Pawukon (perhitungan penanggalan Jawa –Red) ini, dalam dimensi spiritual kejawen api yang berkobar di Gunung Lawu, dimaknai sebagai sengkala dan sukerta.  Sedangkan angka pitu (tujuh) korban nyawa kebakaran gunung yang disebut-sebut juga Redi Mahendra ini, berarti pitulungan atau pertolongan.

“Bisa juga ditafsirkan, Ibu Bumi atau Negeri Nusantara telah dipenuhi aura spiritual negative kobaran nafsu amarah dan meminta segera mendapatkan pitulungan,” kata dia mengaku sangat prihatin dengan beragam keterpurukan di negeri kita. Baik ketimpangan perekonomian, sosial budaya, moralitas maupun spirit spiritual.

Untuk menyingkarkan keprihatinan berbagai pihak itulah, Ki Buyut Lawu mengajak semua pihak untuk segera melakukan Istighfar Pangruwating Nagari. Menurut dia, Istighfar merupakan laku spiritual lebih mendekatkan diri kepada Allah untuk introspeksi dan mensucikan katarak jiwa.

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge