0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Kabut Tak Kunjung Surut, Dosen Kirimi Surat Jokowi dan PBB

merdeka.com

ilustrasi

Timlo.net – Dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Riau, Sri Wahyuni mengirimkan surat kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) serta Sekjen Perserikatan Bangsa-bangsa Bang Ki Moon terkait musibah kabut asap yang terjadi di wilayahnya.

Surat yang dituliskan dalam tiga bahasa yakni Inggris, Jerman dan bahasa Indonesia tersebut juga dikirimkan secara terbuka melalui sosial media.

“Kami mulai apatis menunggu, kapan kami bisa terbebas dari kabut asap ini, dan sikap apatis itu juga melanda rakyat negeri ini khususnya di wilayah yang terkena kabut asap, apatis akan nasib udara yang kami hirup, dimana udara adalah sumber utama kehidupan, akan nasib anak anak kami yang tidak sekolah, akan nasib kesehatan anak anak kami untuk 20 tahun yang akan datang,” tulis Sri Wahyuni, dalam suratnya, Kamis (29/10).

Dalam suratnya, ibu empat anak yang tinggal di Pekanbaru, menegaskan bahwa dirinya hanya bisa mengirimkan surat kepada para pemimpin dunia dan teman-temannya terkait bencana asap yang telah terjadi selama empat bulan ini.

“Saya malu, karena tidak ada yang bisa saya lakukan kecuali hanya pasrah dan menerima nasib. Sekali lagi, saya malu sebagai seorang dosen dan pendidik, tetapi selalu ditanya oleh mahasiswa saya, apa yang harus dilakukan tentang kabut asap ini ?” tulisnya.

Sri Wahyuni mengaku tidak berdaya untuk dapat menyelesaikan masalah kabut asap ini. Walau begitu, tambahnya dirinya mengaku masih punya rasa ke-Indonesia-an, rasa Nasionalisme, dan rasa percaya pada pemimpin.

“Selama 20 tahun ini bila dihitung dari tahun 1997 hingga saat ini, masih saja kami mengajukan pertanyaan yang sama setiap tahunnya, seakan akan kami ini rakyat yang tidak berdaya, mengapa tidak juga bisa pemimpin kami menyelesaikan kabut asap ini?” tulisnya.

Dalam surat selanjutnya, Sri Wahyuni mengaku pedih hati melihat anak-anak kecil terpapar kabut asap dan memikirkan masa depan mereka.

“Apakah paru-paru mereka masih baik untuk kehidupan yang akan datang? Ke mana negara saat kami butuhkan? Mengapa usaha yang dilakukan tidak juga menyelesaikan masalah? Apa yang salah?” paparnya.

Banyak pertanyaan yang menggelayut di benaknya. Sri Wahyuni mempertanyakan apakah saya ini atau masyarakat sudah begitu bodohnya, sehingga kami harus menerima keadaan ini yang disebut dengan takdir dan melakukan salat tobat dan salat minta hujan?

“Mengapa kami rakyat yang selalu disuruh bertobat? Kenapa tidak pemimpinnya yang bertobat? Di mana salah kami sebenarnya bila itu memang kesalahan kami?” tuturnya.

Menurut Sri Wahyuni, bukankah kabut asap ini disebabkan kesalahan sebagian orang saja, yang kami sebut dengan sebutan mereka?.

Walau mereka juga adalah rakyat juga, tapi mereka rakyat yang ekslusif, mereka rakyat yang kaya, yang bila terjadi kabut asap yang mereka buat setiap tahun selama 20 tahun ini, maka mereka bisa pergi lari keluar negeri, dan tinggallah kami yang masyarakat biasa, yang rakyat biasa yang sengsara. Kami sama sama rakyatnya, tapi kami iri dengan mereka yang juga rakyat, yang dengan uangnya mereka bisa membalikkan keadaan negeri ini.

“Kami negeri yang dikepung asap saat ini. Negeri yang betul betul dikepung asap, bukan suatu idiom lagi tapi suatu kenyataan,” tulisnya.

Lebih lanjut Sri Wahyuni merasa malu untuk mengakui bahwa masyarakat sudah terbiasa akan asap ini. Masyarakat tambahnya sudah terbiasa akan tidak adanya peran negara dalam menyelesaikan kabut asap ini.

“Padahal kami rindu akan pemimpin tersebut, kami rindu mereka akan hadir bila kami ada masalah,” tegasnya.

Apakah karena kami masih punya hutan, maka kami akan selalu merasakan asap, karena hutan akan selalu berpotensi untuk dibakar demi yang namanya ekonomi, pembangunan dan kemajuan zaman.

“Kalau begitulah adanya dikarenakan kami punya hutan, kami akan rela melepaskan hutan ini demi kami tidak mau oksigen kami tercemari, karena udara adalah paling utama sumber kehidupan manusia. Kami ingin juga seperti kota kota lain yang selalu bisa bersih udaranya,” katanya.

[cob]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge