0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Petani Ragu Program Asuransi Usaha Tani

padi hibrida

Karanganyar — Sejumlah petani di Karanganyar ragu-ragu dengan program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP). Mereka menilai pelaksanaan program cenderung tebang pilih dan setengah-setengah.

“Yang sering menjadi penyebab gagal panen justru tidak dapat pertanggungan,” kata Haris, Anggota Kelompok Tani di Harjosari Karangpandan.

Haris sebenarnya mengapresiasi program itu. Pemerintah pusat berusaha memperhatikan petani. Tetapi, dia mengkritisi isi program yang cenderung tebang pilih.

“Sawah tadah hujan enggak dibiayai. Lalu yang kena wereng enggak. Padahal rata-rata penyebab puso ya itu. Kalau penyebab puso kesalahan petani, maklum tidak dibiayai asuransi. Kalau karena alam seharusnya kan dibiayai semua,” kata dia saat ditemui wartawan di Balai Penyuluhan Kecamatan Karangpandan, Senin (26/10).

Hal senada disampaikan Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Kelurahan Lalung, Karanganyar, Marso. Dia menuturkan petani tidak dapat memanfaatkan program itu secara maksimal. Padahal hama wereng merupakan ancaman utama.

“Kalau serangan wereng tidak ditanggung asuransi, kurang bermanfaat,” ujar dia.

Tiap petani berstatus pemilik maupun penggarap sawah yang tergabung dalam kelompok tani wajib mengasuransikan sawah. Ukuran maksimal dua hektare. Sawah yang mengalami puso karena kekeringan, banjir, dan terserang organisme pengganggu tanaman (OPT) dapat mengajukan klaim.

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Perkebunan dan Kehutanan (Dispertanbunhut) Karanganyar, Supramnaryo, menjelaskan AUTP merupakan terobosan baru. Menurut dia, belum ada asuransi yang mau memberikan perlindungan pada pertanian karena risiko tinggi.

”Petani yang belum bisa menikmati asuransi mendapatkan bantuan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karanganyar. Pemkab menyediakan alokasi dana untuk lahan yang mengalami puso,” katannya.

Editor : Wahyu Wibowo

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge