0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Dyah Retno Pratiwi, Dosen yang Hobi Siaran

widiyawati

Dyah Retno Pratiwi

Solo – Menjadi pengajar di sebuah perguruan tinggi bukanlah cita-cita sejak kecil. Dibesarkan dari lingkungan keluarga pengusaha, tak pelak dunia pendidikan menjadi profesi baru dalam keluarganya. Selain aktif mengajar dan cuap-cuap di hadapan mahasiswa, Bu Dosen yang satu ini ternyata memiliki hobi cuap-cuap di depan mikrofon alias penyiar radio. Bagaimana kisahnya?

Dia adalah Dyah Retno Pratiwi, dosen Fakultas Komunikasi dan Bisnis, Jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Sahid Surakarta (Usahid). Bungsu dari empat bersaudara ini sempat merasakan beberapa pekerjaan.

Putri pasangan Sutomo dan Suyanti ini pernah menjadi Public Relations (PR) di sebuah rumah perawatan kulit. Selain itu, dirinya juga pernah menjadi Staff Accounting perusahaan semen di Yogjakarta. Namun semua pekerjaan itu ternyata tidak memberikan kepuasan bagi wanita yang tinggal di Pucang Sawit, Solo ini.

“Tidak puas dengan pekerjaannya. Jadi saya merasa harus melanjutkan kuliah ke jenjang berikutnya. Dan setelah lulus paska sarjana saya mencoba mendaftar dosen di Usahid, ternyata diterima,’’ kata Dyah Retno saat ditemui di kantornya.

Saat ini, wanita kelahiran 30 tahun silam tersebut mengaku, jiwa seorang pendidik dan pengajar sudah melekat di dalam dirinya. Bahkan, prasangka susahnya menjadi dosen kini berubah menjadi pemicu untuk lebih giat lagi mendalami karirnya.

“Profesi dosen itu sulit dan memiliki tanggung jawab moral yang berat. Karna disini dituntut untuk tidak hanya secara teori, tapi lebih kepada membentuk karakter. Bahwa dosen itu harus membekali mahasiswanya menjadi lulusan yang memiliki skill kerja di kehidupan nyata,” tandasnya.

Selain menjadi dosen, Dyah, panggilan akrabnya, ternyata juga tengah menggeluti hobinya, yakni cuap-cuap di depan mikrofon alias penyiar pada salah satu stasiun radio di Solo. Kepiawaian dalam hal bertutur kata membuatnya tak canggung menjalani profesi ini.

”Saya dapat ilmu broadcasting sewaktu saya kuliah di UNS. Dari situ, saya jadi cinta kepada dunia broadcasting, dan tidak bisa meninggalkannya,” lanjutnya.

Dia menganggap, selain mennyalurkan hobi, menjadi penyiar radio juga mengghilangkan bad mood. Apalagi saat ada interaksi dengan pendengar. Perasaan bad mood langsung hilang.

Editor : Wahyu Wibowo

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge