0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Pesta Rakyat Solopolah, Ajang Pacu Kreatifitas Warga

timlo.net/daryono

Salah satu pentas musik di Pesta Rakyat Solopolah di CFD Jl Slamet Riyadi

Solo – Suasana Solo Car Free Day (CFD), Minggu (25/10), tampak lebih ramai dari CFD sebelum-sebelumnya. Ribuan pengunjung CFD tampak berjubel di semua titik sepanjang Jl Slamet Riyadi. Lantaran antusiasme yang tinggi, kemacetan sempat terjadi di Jl Gajah Mada. Kendaraan yang hendak melintas di perempatan Nonongan kesulitan menembus CFD meski sudah ada petugas kepolisian yang bertugas.

Kali ini, CFD memang ibarat menjadi tempat rakyat Solo berpesta. Di sepanjang Jl Slamet Riyadi, berjajar komunitas, sanggar, sekolah yang menampilkan kreasi mereka. Mulai dari komunitas pecinta hewan, pentas musik, seni, olahraga, lifestyle dan pertunjukan kreatif lainnya. Mereka ikut berpartisipasi dalam Pesta Rakyat Solopolah, yang merupakan rangkaian kegiatan Indonesian Creative Cities Conferenci (ICCC), 22-25 Oktober 2015.

“Total ada sekitar 70-an institusi yang terlibat. Mulai dari komunitas, sanggar, sekolah, mahasiswa. Yang paling banyak dari IGTK (Ikatan Guru Taman Kanak-kanak),” kata Ketua Divisi Pesta Rakyat Solopolah, Mayor Haristanto, kepada Timlo.net, Minggu (25/10).

Menurut Mayor, Pesta Rakyat Solopolah dimaksudkan sebagai gerakan masyarakat untuk menjadikan Solo sebagai kota kreatif. Semua elemen masyarakat dipacu untuk berkreasi sesuai potensi yang dimiliki. Meski bebas, ada dua hal yang tidak dibolehkan yakni kreatifitas menyangkut SARA dan seksual.

Salah seorang pengunjung CFD, Agus Sugiyarto (38), mengaku gelaran Pesta Rakyat Solopolah sudah cukup bagus. Kreatifitas yang ditampilkan cukup bagus dan menghibur. Namun demikian, ia menilai gelaran kurang teratur.

“Mungkin kedepan lebih dikoordinir. Biar tidak semrawut. Tadi di Gladak macet, kemudian di Pasar Pon juga macet. Masih kurang teratur,” ujar dia.

Editor : Wahyu Wibowo

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge