0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Dua Jembatan JLS Dibangun, Sopir Truk Protes

timlo.net/tarmuji

Jembatan darurat yang dibuat kontraktor

Wonogiri — Pembangunan dua jembatan di Kecamatan Giriwoyo disoal warga. Khususnya para sopir truk lokal. Pasalnya, jembatan darurat yang dibangun oleh pihak kontraktor hanya berkapasitas lima ton. Sedangkan, truk yang melewati jalur tersebut melebihi tonase yang ditentukan pihak kontraktor.

“Kami semua jadi resah, soalnya akses jalur perekonimian kita putus, mau lewat jalan alternatif (kampung) tidak boleh warga, padahal rute truk lokalan itu hanya Baturetno, Giriwoyo, dan Giritontro,” ungkap salah satu sopir truk, Warsino, warga Dusun Platarejo RT1/RW4 Kelurahan Platarejo Kecamatan Giriwoyo, Minggu (25/10).

Menurutnya, pihak kontraktor sebelum membangun jembatan, telah membuatkan jembatan darurat. Yakni jembatan Sasem masuk wilayah perbatasan Dusun Brak Lor, Lingkungan Kamalan, Kelurahan Giriwoyo. Kemudian jembatan Kalongan tepatnya di Dusun Juru Tengah, Desa Sejati, Kecamatan Giriwoyo.

“Padahal muatan kita itu berkisar enam sampai tujuh ton, tapi kontraktor membuat jembatan darurat yang hanya bisa dilewati kendaraan bertonase lima ton, ” jelas Warsino.

Pernah, dia mencoba nekat melintasi jembatan darurat dengan muatan pasir. Namun penjaga jembatan langsung mengehentikannya. Warsino terpaksa putar balik.

“Sudah empat hari ini pembangunan jembatan dimulai, empat hari pula kami sudah tidak bekerja lagi, ” ujarnya.

Selama pembangunan jembatan itu, dirinya bersama rekan-rekannya pernah mengeluh dan melapor ke Mapolsek Giriwoyo, namun jawaban pihak kepolisian tak mampu menyelesaikan masalah.

“Mereka bilang pada kami, ’aku ora menging, yen arep lewat, lewato tapi yen ono resikone tanggungen dewe,” katanya.

Dia menambahkan, pembangunan jembatan tersebut belum pasti kapan selesainya, padahal setiap hari mereka memerlukan biaya hidup. Dia menilai pembangunan jembatan tersebut sangat tergesa-gesa tanpa memikirkan dampak yang ditimbulkan.

Dia mencontohkan, hari pertama dibangun, pagi harinya ada satu bus malam yang kebetulan mempuanyai pool di Desa Dringo masih bisa melintas. Kemudian siang hari, saat bus berangkat ke Jakarta, jembatan lama sudah dihancurkan. Berhubung tonase jembatan darurat hanya lima ton, akhirnya bus tersebut disuruh memutar melalui Giribelah, Donorojo, kemudian Giriwoyo lalu Baturetno.

“Sama sekali tidak ada sosilaisasi, tahu-tahu jembatan darurat jembatan lama dipugar begitu saja. Yang jelas kami berharap jembatan darurat itu diperkuat lagi, soalnya ini menyangkut urusan perut,” tandasnya.

Editor : Wahyu Wibowo

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge