0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Semedi dekatkan Diri Kepada Sang Pencipta

timlo.net/nanang rahadian

Agustinus Sino

Karanganyar – Mayoritas pendaki yang ingin bertahan di puncak Lawu adalah para pendaki ritual. Mereka melakukan tirakat mendekatkan diri kepada pencipta Alam Semesta. Mereka percaya dengan cara seperti itu akan didapat ketenangan batin dalam menjalani hidup di dunia.

“Inilah cara kami mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa,” kata M Hanung, salah seorang pendaki ritual, Rabu (21/10).

Hanung mengatakan, dirinya berada di gunung Lawu sejak sebelum tanggal 1 Suro (14 Oktober-red) lalu. Rencananya dia akan berada di puncak Lawu hingga 6 bulan kedepan. Saat ditanyakan kenapa saat ini turun padahal belum lewat enam bulan.

“Saya menghormati tim SAR, mereka sudah bersusah payah menyelamatkan kita,” kata Hanung.

Sementara itu, Agustinus Sino (48), pendaki dari Wonogiri mengaku, naik ke puncak Lawu pada Minggu (18/10) pagi, melalui jalur Cemoro Kandang.

“Saat naik, sempat lihat kobaran api di atas pos 1 jalur Cemoro Sewu. Saya sampai puncak Minggu sore. Malamnya, sekitar pukul 22.00, sempat lihat dari area Sumur Jalatunda, kalau api dari kebakaran hutan masih besar,” ujarnya.

Pria yang rutin naik Gunung Lawu tiap bulan Suro sejak tahun 2000 ini mengaku berencana tinggal di puncak selama tiga hari.

“Rencananya memang tiga hari, sampai hari ini. Kebetulan pula, ada imbauan untuk turun karena peristiwa kebakaran itu. Ya sudah, saya ikuti imbauan itu,” tuturnya.

Pendaki lain, Sujono (40) dari Magelang berencana tinggal di puncak sampai Sabtu (24/10) untuk bersemedi.

“Saya naik sejak Minggu dari jalur Cemoro Kandang. Di atas, tinggal sementara di kawasan Hargo Dalem. Rencananya sampai Sabtu. Tapi karena ada kejadian kebakaran dan diminta turun, saya manut,” imbuhnya.

 

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge