0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Sistem Pertahanan Radar di Indonesia Masih Kurang

timlo.net/achmad khalik

Kepala Kelompok Pendidik Skuadron Pendidikan (Kapok Gadik Skadik) Lanud Adi Soemarmo Solo, Mayor Lek Ruadi Puja Antara melakukan simulasi radar dalam pameran TNI Military di atrium Solo Paragon Lifestyle Mall.

Solo — Radar merupakan bagian vital dalam sistem pertahanan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Meski begitu, pemerintah masih belum mampu melengkapi sistem pertahanan tersebut. Terbukti, di sejumlah kawasan vital dibagian terluar deretan pulau-pulau Indonesia masih belum terpasang sarana pertahanan yang konon memiliki harga selangit itu.

“Memang, jika dilihat dari perannya sangat vital sekali. Di Indonesia sendiri terdapat sekitar 20 radar dari total kebutuhan untuk menjaga pertahanan sebanyak 30 radar. Jadi memang masih kurang,” terang Kepala Kelompok Pendidik Skuadron Pendidikan (Kapok Gadik Skadik) Lanud Adi Soemarmo Solo, Mayor Lek Ruadi Puja Antara mewakili Danlanud Adi Soemarmo Solo, Kolonel Agus Priyanto saat ditemui Timlo.net, Minggu (18/10) siang.

Fungsi utama radar, kata Ruadi, adalah sebagai ujung tombak deteksi dini ketika terdapat serangan udara dari musuh. Melalui alat tersebut, angkatan udara dapat langsung mengirim pesawat untuk mengetahui atau menghalau musuh maupun benda asing yang masuk kekawasan NKRI. Jika tidak memiliki kepentingan, maka pesawat yang dikirim dapat langsung menembak jatuh.

“Biasanya yang terdeteksi radar adalah jenis pesawat. Jika tidak memiliki itikat baik atau berupaya menerobos masuk, maka pesawat yang kita utus itu memiliki kewenangan untuk menembak jatuh,” tegas Ruadi.

Disinggung jenis radar maupun penempatannya di Indonesia, Ruadi mengaku, Indonesia memiliki beberapa jenis radar buatan negara Prancis diantaranya, Thomsoon TRS 2215 R (1982), Thomson TRS 2230 (1986), Thomson TRS 2215 D (1987), Master-T (2005) serta buatan dari negara Inggris, Plessey AR 325 Commander (1992).

“Penempatannya di beberapa titik terluar NKRI, seperti Natuna, Aceh, Tangerang, Sukabumi, Sabang, Sibolga, Balikpapan, Tarakan, Gorontalo, Tanjung Pinang, Biak, Marouke, Timika (Papua) dan masih banyak yang lain dengan total mencapai 20-an titik tersebar,” jelas Ruadi.

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge