0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Pasal Kretek Dihapus, Ketua APTI Klaten: Memprihatinkan

dok.timlo.net/red
Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Klaten Kadarwati (paling kiri) (dok.timlo.net/red)

Klaten —  Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Klaten Kadarwati mengatakan, penghapusan pasal kretek dari Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Kebudayaan dinialai tidak tepat.

“Memprihatinkan. Mungkin mereka belum bisa memahami dan menyelami,” kata Kadarwati, di sela-sela kunjungan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, di Pasar Srago Klaten, Kamis (15/10).

Menurut anggota DPRD Jateng asal Trucuk ini, merokok itu budaya atau tidak bisa dilihat dari sudut pandangnya. Meski dirinya tidak merokok, orang harus melihat sudut pandangnya secara adil.

“Kita itu persahabatan tidak melebihi orang merokok. Coba Anda nyoto (makan soto) bertiga tapi hanya ada satu mangkok, tidak mungkin kan untuk dimakan bareng-bareng. Tapi jika ada satu batang rokok, meski dianggap saru, tapi bisa buat bertiga,” ujarnya mencontohkan.

Dibesarkan di lingkungan perokok serta kawasan penghasil tembakau, imbuh Kadarwati, orang merokok itu menghasilkan inspirasi. Bila dianggap racun, sekali orang menghisap rokok pasti langsung mati.

Seperti diketahui, pasal “kretek tradisional” ini menuai pro kontra setelah rapat Badan Legislasi, (14/9) mencantumkannya sebagai warisan budaya yang harus dilindungi, difasilitasi pengembangannya, dipromosikan, bahkan difestivalkan. Kemudian, rapat Komisi X DPR RI akhirnya menghapus pasal kretek dari Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Kebudayaan, Rabu (14/10).

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge