0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Wisnu Widjaja: BNPB Tak Mau Jadi Tukang Cuci Piring

dok.timlo.net/achmad khalik
Deputi Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), B Wisnu Widjaja (dok.timlo.net/achmad khalik)

Solo — Penanganan bencana perlu diwujudkan dan disepakati oleh pihak-pihak terkait. Tak hanya pemerintah semata, melainkan masyarakat maupun pihak swasta musti dilibatkan ketika terjadi bencana skala besar. Begitu pula, dengan pencegahan atau pra bencana untuk mengatasi meletusnya bencana yang terjadi.

“Bulan Pengurangan Resiko Bencana (PRB) Nasional ini bukan hanya hura-hura namun ada aksi nyata antisipasi terjadinya bencana. Kebencanaan melibatkan banyak pihak, kita (BNPB) tentunya tidak mau jadi tukang ‘cuci piring’ hanya lakukan proses evakuasi, yang seharusnya bencana dapat dicegah,” terang Deputi Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), B Wisnu Widjaja, saat ditemui wartawan di Sunan Hotel Solo, Kamis (15/10).

Kegiatan yang diselenggarakan di kawasan Stadion Manahan, Solo mulai dari tanggal 16-18 Oktober mendatang ini, kata Wisnu, diiktuti sekitar 4.000 peserta dari berbagai kepala daerah sampai relawan. Tujuannya tak lain untuk menyamakan persepsi terkait langkah pra bencana.

Dikatakan Wisnu, bencana besar yang siap menghadang kedepan yakni masalah hidrometeorologi atau bencana perubahan alam dan lingkungan. Misalnya seperti kasus kekeringan dan banjir. Mengatasi hal tersebut adalah dengan melakukan management air. Seperti pada kegiatan Kamis (15/10) sekitar 400 relawan ke Karanganyar dan Klaten guna melakukan mitigasi bencana membuat biopori dengan sabut kelapa untuk resapan air agar tidak terbuang.

“Langkah-langkah seperti ini yang harus kita lakukan untuk mengatasi bencana ke depan,” kata Wisnu.

Peran pimpinan dalam penanganan masalah pra bencana sangat diperlukan. Menurutnya, saat ini yang dilakukan Provinsi Jawa Tengah sudah lebih baik. Sedangkan PRB ini perlu dukungan pemimpin agar proses yang berjalan semakin cepat.

“Kesadaran dari masyarakat ini juga butuh proses. Acara ini juga diharapkan kehadiran Presiden Jokowi, saat ini masih tentatif, namun bisa saja pulang mendadak karena sini (Solo) juga rumahnya sendiri,” ungkapnya.

Dari pertemuan di Solo ini diharapkan mengeluarkan hasil kesepakatan yang aklan dibawa ke konfrensi di tingkat Asia. Rencananya gelaran serupa akan digelar di New Delhi India pada 2016 nanti.

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge