0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Tanggapan Veteran Solo, Bela Negara Jangan Mengarah ke Milisteristik

Ilustrasi bela negara

Solo — Program bela negara yang digagas oleh Kementerian Pertahanan (Kemenhan) mendapat respon dari kalangan pejuang veteran di Solo. Menurut mereka, bela negara perlu, namun bukan untuk menjadi wajib militer.

“Bela negara harus menjadi bagian dari diri tiap warga. Namun bukan berarti harus diimplementasikan dalam kegiatan wajib militer,” kata Ketua Dewan Harian Cabang (DHC) 45 Solo, Soedjinto, kepada wartawan, Kamis (15/10).

Menurut Soedjinto, jika bela negara diarahkan ke wajib militer, hal itu justru bisa mengarah kembali pada era militerisme seperti jaman Presiden ke-2, Soeharto. Era militerisme itu jelas-jelas tidak baik bagi bangsa Indonesia.

Soedjinto melanjutkan, banyak hal bisa dilakukan dalam upaya pembentukan mental bela negara. Di tataran formal, negara sudah memiliki instrumen yakni Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhanas).

“Lemhanas memiliki materi yang memadai untuk pembentukan karakter anak bangsa. Mungkin bisa dicoba ke wakil rakyat itu. Mereka perlu ditatar soal bela negara. Bagaimana mereka menjalankan tugasnya dengan baik, berlaku adil. Jangan justru malah seenaknya dalam membawa amanah rakyat,” jelas dia.

Adapun untuk anak muda, imbuh Soedjinto, bela negara bisa disisipkan pada potensi-potensi anak muda. Pasalnya, beberapa anak muda saat ini dengan potensi dan kreatifitasnya, mampu mengarahkan penguatan nasionalisme.

“Potensi yang mereka miliki itu dihargai dan diapresiasi. Dengan pendekatan itu, kita juga bisa memasukkan nilai-nilai bela negara sambil memupuk potensinya. Saya lihat, tanpa terikat atau terbelenggu pada kekuasan membuat mereka berkarya positif untuk bangsa,” beber dia.

Editor : Wahyu Wibowo

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge