0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Jokowi Tidak Ingin Ada Kekerasan Lagi di Aceh Singkil

dok.merdeka.com

Presiden Jokowi

Timlo.net – Lewat akun Twitter, Presiden Joko Widodo meminta segala bentuk kekerasan antarwarga dihentikan. Dia ingin agar kasus bentrok antar warga di Aceh Singkil segera diselesaikan.

“Hentikan kekerasan di Aceh Singkil,” posting @jokowi, Rabu (14/10).

Ditegaskannya, kekerasan antarwarga dalam bentuk apapun tak diperbolehkan.

“Kekerasan berlatar apapun, apalagi agama dan keyakinan merusak kebhinekaan,” tegasnya.

Kabarnya, penyebab kerusuhan lantaran sebagian masyarakat menuntut supaya beberapa gereja di daerah itu dibongkar. Sebab, mereka menyatakan beberapa gereja berdiri di sana dianggap menyalahi aturan.

“Pertikaian antara umat Islam dan Nasrani itu pemicunya pada 1979, ada perjanjian dari kawan-kawan Nasrani hanya membangun satu gereja dan empat undang-undang. Belakangan berkembang. Masyarakat minta Pemkab menertibkan gereja yang tidak berizin,” ujar Humas Pemkab Aceh Singkil, Kaldum.

Menurut Kaldum, desakan massa supaya gereja dianggap menyalahi aturan itu dibongkar menguat sejak sepekan lalu. Lantaran langkah Pemkab dianggap lamban, lanjut dia, maka masyarakat yang tidak sabar langsung turun ke jalan. Padahal, menurut dia, persoalan itu sedang dirundingkan dan dicari jalan keluarnya.

Hanya saja, sejak pagi massa sudah dimobilisasi. Mereka berkumpul dan membekali diri dengan senjata tajam dan bambu runcing. Setelah siap, kelompok itu lantas bergerak menggunakan kendaraan. Sasaran awal, sebuah rumah ibadah di Kecamatan Gunung Meria.

Aparat keamanan yang mendapat kabar adanya pengerahan massa sudah bersiaga di lokasi. Namun apa daya, jumlah mereka kalah jauh dibanding kelompok sudah dirasuki amarah itu. Alhasil, rumah ibadah Nasrani itu tak luput dari pembakaran.

Setelah target terpenuhi, massa pun bergerak lagi mencari sasaran. Namun pergerakan mereka berhasil dicegat polisi dan TNI. Tanda-tanda gejolak sosial itu bakal membesar sudah terjadi sejak sepekan sebelumnya.

“Pecahnya hari ini, tapi tuntutan sudah pekan lalu. Karena langkah Pemkab dianggap lambat. Awalnya mereka mau membongkar, tapi enggak direspon. Makanya pecah pertikaian hari ini,” ujar Kaldum.

Kabarnya, massa di Aceh Singkil digerakkan oleh kelompok menamakan diri Pemuda Peduli Islam (PPI).

“Ada pihak yang melakukan yang menamakan kelompok PPI. Melakukan upaya mendahului dari kegiatan yang direncanakan,” kata Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri, Kombes Suharsono, saat dikonfirmasi.

Suharsono mengatakan, sebelumnya sejumlah tokoh agama serta pemerintah daerah sudah melakukan koordinasi terkait penertiban rumah ibadah, yang dianggap ilegal. Namun, lanjut dia, PPI bertindak di luar koordinasi sudah dilakukan pemerintah daerah dan para tokoh agama, serta warga setempat.

Sudah memeriksa 20 orang terlibat dalam insiden itu. Dengan memeriksa para saksi, lanjut dia, polisi yakin bisa menjerat otak di balik bentrokan itu.

[lia]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge