0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Bulan Pengurangan Resiko Bencana, Ribuan Personil Resik-Resik Bengawan Solo

timlo.net/daryono

Gubenur Jateng Ganjar Pranowo saat resik-resik Bengawan Solo

Solo – Peringatan Bulan Pengurangan Resiko Bencana di Solo resmi dimulai Minggu (11/10). Ribuan personil Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) se-Jawa Tengah mengikuti apel di halaman Balaikota Solo sebelum diterjunkan resik-resik Sungai Bengawan Solo. Apel dibuka oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

“Dalam bulan pengurangan resiko bencana ini, mereka (BPBD) sudah bekerja sudah sangat lama sekali. Sekarang kita dorong, yuk kita aksi kongkret,” kata Ganjar usai apel.

Menurut Ganjar, masyarakat selama ini mengeluhkan banjir dan jebolnya tanggul di musim hujan. Di musim kemarau, masyarakat juga mengeluh soal terjadinya kekeringan. Lantaran persoalan itu, Ganjar kemudian mendorong BPBD agar melakukan tindakan riil bersama elemen masyarakat.

“Maka dilakukan hari ini, kita resik-resik kali. Ini sudah berjalan beberapa minggu di banyak daerah. Ini yang kita dorong dan bisa menular ke banyak tempat dan menjadi perilaku. Ini stimulus saja,” jelas Ganjar.

Deputi Bidang Pencegahan Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Bernadus Wisnu Wijaya mengatakan 90 persen bencana yang terjadi di Indonesia merupakan bencana hidrometrologi yakni bencana akibat cuaca seperti banjir, longsor, gelombang laut dan sebagainya. Akar dari bencana hidrometrologi itu berasal dari kerusakan lingkungan dan perubahan iklim global.

“Tahun 1966, perubahan DAS (Daerah Aliran Sungai) Bengawan Solo pernah banjir besar. Yang terbaru, Februari 2015, terjadi lagi banjir akibat curah hujan tinggi. Hasil citra satelit 2011, penggunaan lahan di sepanjang DAS didominasi untuk budidaya sawah 33 persen, tegalan 11 persen. Lahan DAS itu seharusnya dikembalikan keseimbangannya. Dalam hal ini, semua pilar masyarakat harus bersinergi,” jelas dia.

Editor : Wahyu Wibowo

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge