0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Pengungsi Rohingya Tewas Karena Kecelakaan

dok.merdeka.com

Pengungsi Rohingya tewas

Timlo.net – Pengungsi Rohingya, Abul Hasyim (17), tewas setelah kabur dari penampungannya di Hotel Pelangi, Simalingkar, Medan. Dia dikabarkan mengalami kecelakaan di Aceh.

Informasi dihimpun, Abul terlihat sesama pengungsi keluar dari Hotel Pelangi pada Rabu (7/10), sekitar pukul 22.00 WIB. Dia dikabarkan menuju lokasi penampungan pengungsi di Langsa.

Keesokan harinya, Kamis (8/10), rekannya sesama pengungsi mendapat kabar pemuda itu tewas. Jenazahnya pun baru tiba di Hotel Pelangi, Medan, Jumat (9/10) pagi.

Berbeda dari biasanya, pihak Imigrasi melarang wartawan masuk ke bagian belakang hotel yang menjadi lokasi penampungan pengungsi itu. Awak media hanya diperbolehkan melihat dari jauh. Satu unit ambulans diparkir di lokasi itu.

Kepala Sub Penindakan Kantor Imigrasi Polonia Medan, Muhammad Fabe mengatakan, larangan itu sesuai perintah atasannya. Namun, dia mengakui Abul Hasyim memang tewas.

“Informasi yang kami terima dari kepolisian, dia disebutkan meninggal karena kecelakaan lalu lintas,” kata Muhammad Fabe.

Muhammad Fabe mengatakan, seperti pengungsi lainnya, Abul Hasyim boleh keluar dari penampungan, tetapi masih di wilayah Medan, dari pukul 07.00 hingga 23.00 WIB. Namun, setelah keluar pukul 22.00 WIB, dia tak kembali sampai akhirnya dikabarkan tewas.

Meski demikian, sejumlah pengungsi tidak percaya begitu saja kalau Abul Hasyim tewas karena kecelakaan.

“Kalau kecelakaan kan banyak lukanya, ini tidak, cuma tangannya yang patah,” ucap Nur Muhammad, salah seorang pengungsi.

Para pengungsi juga mempersoalkan biaya yang harus mereka keluarkan untuk membawa jasad Abul Hasyim ke Medan.

“Kami mengumpulkan Rp 8 juta, dikasih ke orang Imigrasi karena katanya kalau dibawa ke Medan tidak dibiayai,” ujar seorang pengungsi.

Ditanya soal dana pemulangan itu, Muhammad Fabe mengaku tidak tahu.

“Saya belum tahu itu, saya baru di sini. Baru kali ini saya ngurus imigran meninggal, makanya saya kelimpungan. Yang minta itu imigrasi sana, Aceh. Mereka yang telepon ke sana biayanya berapa. Kalau di kita memang tidak ada anggaran untuk itu,” ujar Muhammad Fabe.

[ary]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge