0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Ngaku Bisa Masukkan PNS, Tipu Hingga Rp 315 Juta

dok.timlo.net/red
(Ilustrasi) Uang (dok.timlo.net/red)

Timlo.net — Bukannya untung malah buntung, itulah yang dialami seorang pegawai negeri sipil (PNS) berinisial NW (50). Dia menjadi korban penipuan oleh seseorang yang mengaku staf di Sekretariat Negara (Setneg), buat memasukkan anaknya menjadi abdi negara.

Akibatnya, korban yang berprofesi sebagai guru harus kehilangan uang mencapai Rp 315 juta. Merasa ditipu, NW akhirnya melapor ke polisi.

Kepada petugas, korban yang tinggal di Jalan Sudirman, Kelurahan Joko Boyo, Kecamatan Lubuk Linggau Utara II, Kota Lubuk Linggau, Sumsel, itu mengatakan, orang membawa kabur uangnya bernama Suhardi Rizal. Anaknya, GI, berkenalan dengannya beberapa waktu lalu. Suhardi pun mengaku sebagai staf di Sekretariat Negara, dan bisa memasukkan orang menjadi PNS.

Lantaran terpikat dengan janji Suhardi, korban melakukan komunikasi intensif sehingga terjadilah kesepakatan antara keduanya. Saat itu, Suhardi mengatakan ada dua kursi PNS menjadi jatahnya. Satu kursi dipatok dengan ‘harga’ Rp 200 juta. Lalu korban meminta kedua kursi tersebut, dan diberikan uang total Rp 400 juta. Dua kursi itu rencananya bagi kedua anaknya.

“Saya mau ambil dua-duanya, jadi harus membayar Rp 400 juta. Baru saya transfer Rp 315 juta ke rekening Bank Mandiri Nomor 1640000691771776 atas nama Susilawati Prihartini pada 23 Juni lalu. Sisanya dilunasi jika SK keluar,” kata NW saat melapor ke SPKT Polda Sumsel, Selasa (6/10).

Kendati demikian, setelah uang dikirim, justru pelaku menghilang. Bahkan, janji manis diterimanya hanya isapan jempol belaka. Tinggal uang ratusan juta miliknya dibawa kabur.

“Saya percaya saja sama dia (pelaku) karena orangnya memang kayak pejabat penting, walaupun cuma staf. Dua anak saya tak masuk PNS, duit hilang,” ujar NW.

Kabid Humas Polda Sumsel, Kombes Pol R Djarod Padakova mengatakan, laporan korban sudah diterima. Dari keterangan pelapor, pelaku bertempat tinggal di Jakarta.

“Kami akan koordinasikan dengan Polda Metro Jaya dan Bareskrim. Karena bisa jadi, pelaku ada sindikat penipuan PNS,” kata Djarod.

[ary]

Sumber : merdeka.com

Editor : Wahyu Wibowo

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge