0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

TimloMagz

Rawon Penjara, Rasa Khas Solo

foto: David

Rawon Penjara

Timlo.net – Menikmati kuliner khas Kota Bengawan memang tak ada habisnya. Mulai dari Tengkleng, Soto khas Solo, Timlo dan masih banyak yang lain. Kali ini, TimloMagz mengunjungi salah satu warung yang menyajikan makanan khas dan unik sekaligus menggugah selera. Ya, Rawon Penjara. Dari namanya, memang telah menggelitik dan mampu menggugah rasa penasaran.

Warung yang terletak di Jalan Slamet Riyadi atau tepatnya disebelah timur Rutan Solo ini, menyajikan rasa rawon yang berbeda dengan daerah asalnya, Jawa Timur. Dominasi rasa gurih berpadu de­ngan kuah hitam pekat serta daging sapi empuk di atasnya langsung membang­kitkan gairah makan. Apalagi, masih ditambah dengan sajian seperti telur asin, tahu, tempe, dan masih banyak yang lain. Namun tak lengkap rasanya, ketika menikmati sepiring nasi rawon tanpa ada tauge atau kecambah serta daun kemangi diatasnya.

Menurut pemilik warung, Bu Har, warung rawon yang dimilikinya merupakan warisan dari orang tuanya. Sejak tahun 1970 warung tersebut telah berdiri. Bahkan, sampai saat ini dirinya yang merupakan generasi kedua masih mempertahankan resep rahasia warisan dari orang tuanya. Tak ayal, rasa rawon khas Solo tetap terjaga dan membuat para pecinta kuliner ketagihan untuk merasakan kenikmatan rasanya.

“Dulu saya ikut bapak, ewang-ewang (membantu) dan diajari sedikit demi sedikit. Sampai akhirnya saya meneruskan usaha yang dirintis orang tua,” kata Hariati.

Dalam membuat rawon, Bu Har sangat selektif memilih bumbu-bumbu ramuannya. Mulai dari kluwak, daun salam, bawang merah, bawang putih dan campuran bumbu rempah lainnya. Seluruh bumbu direbus dalam wadah besar berikut daging sapi. Sehingga, saat disajikan bumbu mampu meresap sempurna ke dalam daging yang direbus menjadi satu. Selain itu, rasa daging sapi juga lebih empuk dan terasa gurih saat dikunyah.

Tak sampai disitu, dalam memasak nyala api juga harus selalu terjaga konstan. Tidak terlalu besar maupun kecil. Sejak awal berdiri, Bu Har selalu setia menggunakan arang pohon jati. Selain tak mempengaruhi rasa makanan, dengan menggunakan bahan bakar tersebut dipercaya mampu membuat rasa masakan menjadi lebih nikmat.

“Dari awal berdiri sampai saat sekarang setia menggunakan arang, tidak pernah menggunakan gas. Khawatir kalau mempengaruhi rasa,” terang Bu Har.

Dalam sehari, kata Bu Har, dirinya mampu menghabiskan 10 kilogram da­ging sapi. Dengan dibantu tiga pekerja dan anaknya, tiap hari warung yang buka mulai jam 06.00 WIB hingga 15.00 WIB ini melayani hingga ribuan pelanggan. Terlebih, di hari-hari besar maupun a­­khir pekan. Kebanyakan pelanggan yang datang dari luar kota. Namun, di hari biasa banyak juga pelanggan setia yang ‘ketagihan’ merasakan rawon penjara.

 

Rasanya Seperti “Terpenjara”

Diantara para pelanggan rawon penjara mengaku, rasa rawon milik Bu Har sangat khas dan berbeda dengan rawon di kota lain. Selain gurih dan kaya akan campuran rempah pilihan, rawon penjara juga memiliki keunikan lainnya. Yakni warna hitam pekat yang dihasilkan dari kluwak yang digunakan untuk membuat kuah rawon terasa makin nikmat.

“Rasanya khas, beda dengan rawon yang ada di kota lain. Di lidah seakan ‘terpenjara’, dan gak pengen merasakan rawon di tempat lain,” kata salah seorang pelanggan setia rawon penjara, Renggo Sudarnoto.

Mantan Lurah Gilingan, Banjarsari ini juga mengaku telah puluhan tahun menjadi pelanggan setia di warung bu Har tersebut. Selain rasa lezat, pelayanan di warung ini juga cukup baik. Selain cepat juga ramah.

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge