0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Drama Kolosal Serangan 4 Hari di Solo Peringati HUT TNI

dok.timlo.net/heru murdhani
Drama kolosal Serangan 4 Hari di Solo (dok.timlo.net/heru murdhani)

Solo — Desingan peluru, dentuman bom serta teriakan ratusan prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) membahana dalam mempertahankan Kota Solo. Satu persatu, para prajurit terkapar lantaran tidak seimbangnya sistem persenjataan.

Di satu sisi, penjajah menggunakan peralatan tempur lengkap mulai dari tank, senapan berat dan masih banyak yang lain. Di sisi lain, TNI dengan dibantu kekuatan rakyat menggunakan senjata seadanya. Bambu runcing, parang serta senjata peninggalan jaman pendudukan Jepang.

Ya, itulah sekelumit cerita yang mewarnai drama kolosal pertempuran empat hari di Kota Solo yang dipentaskan oleh prajurit TNI serta organisasi masyarakat (Ormas) hingga komponen masyarakat yang digelar di halaman Makorem 074/ Warastratama Solo, Senin (5/10) pagi.

Tanpa kenal ragu dan gentar, prajurit TNI dan rakyat menggebuk pasukan Belanda. Meski korban terus berjatuhan dengan iringan derai air mata. Namun, dalam benak mereka hanya terlintas ingin terbebas dari tirani penjajahan.

“Melalui drama ini, kami ingin menunjukkan kepada masyarakat betapa gigihnya perjuangan prajurit TNI dengan dibantu rakyat mengusir penjajah di Kota Solo,” terang koordinator pertunjukan drama kolosal sekaligus Kepala Staf Kodim (Kasdim) 0735/ Solo, Mayor Inf Didin Nasrudin kepada wartawan.

Dijelaskan, drama kolosal ini menggambarkan perjuangan pasukan TNI yang dipimpin oleh Letkol Slamet Riyadi mengusir penjajah. Waktu itu cerita Kasdim, setelah serangan umum 1 Maret 1949 di Yogyakarya, pasukan TNI berhasil menguasai Kota Yogyakarta, dan secara berangsur-angsur Belanda memindahkan pasukannya ke arah Kota Solo.

Tentara Belanda pun menyerang rakyat Solo yang tidak berdosa dan menindasnya dengan kejam. Melihat olah dari tentara Belanda tersebut, membuat pejuang di Kota Solo tidak tinggal diam. Akhirnya rapat strategi untuk serangan umum pun dilakukan yang bertempat di Monumen 45 Banjarsari. Dan pada 7 Agustus 1949, dimulailah serangan umum secara serentak terhadap kedudukan tentara Belanda di Solo.

Tentara Belanda kebingungan karena serangan dilancarkan dari segala penjuru di sekeliling Kota Solo yang dimulai dari Tugu Lilin, Penumping ke arah barat sampai Sondakan, Markas Komando KL 402 Jebres, sebuah pos di Jurug, Jagalan, Kompleks BPM Balapan serta markas artileri medan di Banjarsari.

“Tanggal 7 sampai 10 Agustus 1949 untuk serangan umum empat hari di Kota Solo. Kemudian tanggal 11 Agustusnya masih ada pelanggaran dan Belanda melakukan penyerangan dengan membabi buta. Namun TNI tidak diam diri, dan berhasil menyerang tentara Belanda sampai menyerah. Dan pada tanggal 12 Agustus 1949 dilakukan penyerahan Kota Solo dari Belanda ke Letkol Slamet Riyadi,” kata Kasdim.

Diharapkan, generasi muda di Kota Solo mampu meneladani dan menghormati para pahlawan yang telah berjuang dan mempertahankan kemerdekaan bangsa dan negara.

“Harapannya, generasi muda yang mulai lupa mampu meneladani dan menghormati jasa para pahlawan yang gugur dalam mempertahankan kemerdekaan dari jajahan Belanda,” pungkas Kasdim.

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge