0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Ribuan Warga Ikuti Prosesi Larung Sukerta

KIrab Merti Desa Kelurahan Mojosongo, Jebres, Solo (dok.timlo.net/heru murdhani)

Solo — Ribuan orang tumpah ruah memadati areal pinggir Kali Anyar, Kelurahan Mojosongo, Jebres, Solo, Minggu (4/10) sore. Mereka mengikuti prosesi Larung Sukerta sebagai puncak acara Merti Desa.

Prosesi Larung Sukerta diawali dengan kirab dari depan kantor Kelurahan Mojosongo. Beraneka buah dan sayur hasil pertanian, umbi-umbian dan aneka hasil kerajinan masyarakat setempat dibuat gunungan dan diarak ke tepi sungai. Di barisan paling depan terdapat sejumlah orang yang menggunakan beskap memanggul pusaka berupa tombak. Di bagian lain tampak asap pengepul dari sebuah tungku kecil.

Mereka tampak khusuk mendengarkan doa-doa yang dipanjatkan dari enam orang pemuka agama. Bau dupa menyengat tajam menambah sakral suasana Larung Sukerta. Usai didoakan, sedikit dari bagian gunungan tersebut dilarung dan sisanya diperebutkan masyarakat yang hadir.

“Larung Sukerta ini adalah bagian dari rangkaian acara Merti Desa di Mojosongo. Acara ini adalah simbol dibuangnya sesuatu yang jahat, sehingga tidak mengganggu kehidupan manusia,” ungkap Lurah Mojosongo, Agus Triyono.

Dijelaskan, Merti Desa merupakan acara yang digelar setiap tahun. Tujuannya untuk membangun hubungan harmonis antara masyarakat di wilayah tersebut. Ditambahkan, sebelumnya ada beberapa rangkaian acara yang dilakukan, di antaranya adalah kerja bakti massal, bazar dan pasar murah, pertunjukan wayang kulit, dan tumpengan wilujengan.

“Kami berusaha untuk bisa menjangkau semua aspek di masyarakat. Misalnya aspek sosial kami mengadakan kerjabakti masal, kemudian aspek ekonomi dengan adanya bazar, aspek keagamaan dengan tumpengan dan wilujengan, aspek budaya dengan larung sukerta dan wayang, serta hiburan bagi warga dengan mengadakan kirab ini,” katanya.

Sementara Penjabat (Pj) Walikota Solo Budi Suharto yang juga turut hadir dalam acara tersebut mengungkapkan, acara seperti ini harus membawa dampak yang baik terhadap masyarakat, baik secara ekonomi, sosial maupun budaya.

“Saya sangat mengapresiasi acara ini, semoga bisa membawa kebaikan bagi semuanya dan harusnya ada penyempurnaan lagi sehingga kedepannya acara juga berlangsung lebih baik lagi,” kata Budi Suharto.

Acara Larung Sukerta ini merupakan peninggalan raja-raja Jawa pada jaman dahulu. Larung ini dimaksudkan untuk membuang sesuatu yang buruk sehingga tidak mencelakai manusia.

“Sejak raja-raja dulu sudah ada, nah kalau kemudian diadopsi oleh masyarakat seperti ini ya boleh-boleh saja, justru lebih baik karena akan semakin memperkokoh budaya kita,” kata salah satu budayawan Solo, BRM Bambang Irawan.

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge