0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Akurasi Sangat Dibutuhkan Dalam Pemberitaan

timlo.net/setyo pujis

Pemimpin Redaksi Bisnis Indonesia, Arif Budisusilo saat menyampaikan materi kepada para wartawan.

Solo – Banyaknya kasus somasi dari narasumber terkait dengan salahnya pemberitaan oleh media, menjadi topik pendiskusian hangat dalam acara Kumpul Bareng Wartawan se Jateng yang digelar oleh Bank Indonesia di hotel Griya Persada Kaliurang, kemarin. Hadir sebagai pemantik diskusi dalam acara tersebut, diantaranya adalah Pemimpin Redaksi Bisnis Indonesia, Arif Budisusilo dan juga presenter ternama Anie Rahmi.

“Bombastis itu boleh, namun mestinya media harus tetap menjaga keakurasian berita. Jangan sampai karena mengejar ratting justru akhirnya salah kaprah,” terang Pemimpin Redaksi Bisnis Indonesia, Arif Budisusilo kepada wartawan.

Dirinya mengatakan, dari data dewan pers yang ada, pada tahun 2015 ini sudah ada sekitar 253 kasus somasi kepada media. Dari total tersebut, 193 diantaranya adalah dari media online. Hal itu membuktikan bahwa selain aktualitas, setiap berita juga dituntun untuk lebih akurat.

Arif juga mencontohkan, saat kasus boomingnya berita Ahmad Dhani soal kicauanya dalam twiter dan tidak dikroscek ulang ketika dikutip dalam sebuah pemberitaan. Akhirnya beberapa media terkena somasi dari dewan pers karena ternyata setelah ditelusuri akun twiter itu palsu.

“Waktu itu dalam dalam akunya, Dhani menuliskan jika siap memotong alat kelaminya jika Prabowo tidak jadi Presiden. Akibat berita yang bombastis itu banyak reaksi dari masyarakat. Hingga akhirnya Ahmad Dhani angkat bicara jika itu akun palsu,” jelasnya.

Melihat kejadian itu, menurutnya banyak pelajaran yang harusnya bisa diambil. Bahwa berita mestinya tidak semata-mata cepat dan bombastis saja, tapi lebih penting dari itu adalah keakuratannya termasuk melakukan konfirmasi kepada narasumber yang tepat.

Sementara itu, presenter yang dulu pernah bergabung di Blommberg TV, Anie Rahmi dalam kesempatan yang sama menuturkan, jika setiap berita mestinya dapat memberikan edukasi kepada msayarakat.

“Karena berita yang dilihat adalah kontennya. Oleh karena itu kejelian dan keseimbangan menjadi salah satu faktor penting dalam pemberitaan,” tandasnya.

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

loading...
KEMBALI KE ATAS badge