0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Perang Urat Syaraf Iran-Saudi Pasca Insiden Mina

dok.merdeka.com

Mina, Saudi

Timlo.net – Pasca terjadinya insiden di Mina beberapa waktu lalu, hubungan Arab Saudi-Iran mulai memanas. Iran menuding Saudi tidak sungguh-sungguh dalam mengelola jamaah haji tiap tahunnya.

Pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei mengutuk tindakan rezim Bani Al Saud yang dianggap sudah tidak becus mengelola haji sendirian.

“Saudi melakukan tindakan yang salah dalam menjamin keselamatan jemaah,” kata Khamenei dalam situs resminya, seperti diberitakan Aljazeera.

Presiden Iran, Hassan Rouhani, sampai menggunakan forum PBB pada Sabtu (26/9) mengkritik Saudi.

“Kejadian itu sangat mengoyak hati kami. Harus ada penyelidikan untuk mengetahui apa penyebabnya,” tuturnya.

Tak terima dikritik keras, Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel Al-Jubeir balik menyerang pemimpin Negeri Para Mullah. Dia mengatakan Iran tak perlu mempolitisasi urusan yang mereka tidak ketahui.

Al-Jubeir menjamin negaranya telah menggelontorkan dana besar tiap tahun buat memastikan jutaan jemaah beribadah dengan lancar.

“Iran seharusnya lebih bisa berempati (pada korban) daripada mempolitisasi tragedi yang menimpa para jemaah yang menjalankan ibadah,” ujarnya ketus seperti dikutip Arab News, Minggu (27/9).

Dalam pernyataan terbarunya, Khamenei berkukuh bahwa Saudi tidak bisa berdalih macam-macam untuk menutupi kegagalan manajemen ibadah haji tahun ini. Kematian begitu banyak orang, di tempat yang sudah berkali-kali mengalami insiden saling injak seperti Mina, dianggap bukti ketidakbecusan yang nyata.

“Kematian lebih dari 1.000 orang bukan masalah yang kecil. Negara-negara Muslim harus fokus pada ini,” ujarnya.

Insiden ini diyakini menjadi amunisi Iran yang sejak lama mengusulkan pelaksanaan haji di Makkah dan Madinah dijalankan bersama-sama. Minimal oleh setiap perwakilan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).

Iran, sebagai negara yang 136 warganya tewas dalam insiden saling injak di Mina pekan lalu, berencana mengajukan gugatan perdata maupun pidana. Bentuk gugatannya sedang dipikirkan, tapi pemerintah Negeri Mullah serius memperpanjang urusan salah kelola ibadah haji ini ke ranah hukum.

“Di bawah hukum internasional, kami bisa menggugat (Arab Saudi) berdasarkan insiden ini. Keluarga Al-Saud (penguasa Arab Saudi) seharusnya cepat merespon gugatan kami,” kata Jaksa Agung Iran, Ebrahim Raisi.

Belum diketahui apakah gugatan bisa dilancarkan lewat Mahkamah Internasional. Aljazeera melaporkan baik Iran maupun Saudi tidak menjadi anggota Mahkamah Internasional.

Pangkal tudingan Iran bermula dari laporan Ketua Tim Jemaah Haji Iran, Said Ohadi. Selepas salat Idul Adha, ribuan jemaah yang melewati rute Jalan 204 berbondong-bondong menuju Jamarat. Mereka mengejar waktu yang afdhal melakukan rukun wajib haji itu.

Namun, Ohadi terkejut karena rombongannya mendapati dua jalur ditutup. Padahal, ketika kepanikan mulai terjadi akibat adanya jemaah asal Mesir jatuh di salah satu jembatan, jalur itu bisa menjadi rute evakuasi darurat.

“Jalur itu ditutup untuk alasan yang tidak terjelaskan,” ujarnya.

Ohadi meyakini penutupan itulah penyebab utamanya, sehingga jemaah saling injak.

“Insiden hari ini menunjukkan ketidakmampuan pengelola haji mengatur arus jemaah, serta kurang adanya perhatian terhadap keselamatan jemaah haji,” imbuhnya.

Pernyataan Ohadi yang dilansir kantor berita al-Manar itu dicuplik media massa seluruh dunia. Selang beberapa jam, giliran media Saudi membalikkan tudingan pada Iran. Misalnya lewat pemberitaan Al Arabiya dan Saudi Gazzette.

“Pelanggaran arus jemaah saat lempar jumrah dipicu pergerakan 300 jemaah Iran yang bergerak dari Muzdalifah langsung ke Jamarat, bukan kembali dulu ke tenda mereka dan menunggu saatnya bagi mereka untuk melontar jumrah,” tulis Saudi Gazzette.

Adapun Arab News mengatakan rekaman CCTV yang diperiksa komite khusus bentukan Raja Salman menemukan bukti ada ratusan jemaah, tidak disebutkan negaranya, datang dari arah berlawanan membuat kacau barisan ribuan orang.

Perang opini sampai melebar ke negara lain, baik sekutu maupun bukan dari dua negara yang bertikai. Pemerintah Turki, kini dikuasai Partai Keadilan Pembangunan (PKP) yang bermazhab Sunni, menolak segala tudingan menyudutkan Saudi.

“Saya tidak bersimpati atas kecaman terhadap Arab Saudi. Anda harus melihatnya juga dari sisi gelas itu separuhnya penuh,” kata Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

Sementara itu pemerintah Nigeria, tak berafiliasi dengan Iran, ikut menyerang Saudi. Nigeria tidak terima jemaahnya jadi kambing hitam insiden itu seperti disampaikan Menteri Kesehatan Saudi.

Jemaah asal Indonesia ikut menjadi korban dalam Tragedi Mina. Data terakhir menyebutkan 34 WNI dipastikan tewas terinjak maupun karena sebab lain saat terjebak di Jalur 204. Sementara itu, 90 jemaah sampai sekarang belum kembali ke tendanya sejak Idul Adha lalu.

[ard]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge