0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Nonis Murwanika Sari, Bangga Menjadi Pekerja Sosial, Sering Dicap Wanita Nakal

timlo.net/tarmuji

Nonis (paling kanan) bersama pasien kaki busuk beberapa waktu lalu

Wonogiri – Sering bepergian, blusukan dari desa ke desa, merupakan pekerjaannya setiap hari. Bahkan tak jarang pulang malam. Kondisi ini membuatnya sering diterpa gosip miring. Terlebih lagi dirinya berstatus janda beranak satu. Namun semangatnya perlu diacungi jempol.

Dia adalah Nonis Murwanika Sari, seorang aktifis kemanusiaan asal Kecamatan Ngadirojo, Wonogiri. Meski sering dinilai wanita nakal, namun semangatnya membantu sesama tak pernah surut. Bahkan semakin menyala.

” Ada yang menganggap saya ini wanita nakal. Karena saya jarang di rumah. Mungkin saja ini sebuah resiko jadi pekerja sosial, Mas,” ungkapnya saat ditemui di kediamannya, Minggu (27/9).

Sudah dua tahun belakangan ini, Nonis, panggilan akrabnya, menggeluti profesi sebagai pekerja sosial di bidang kesehatan. Dia menilai, pekerjaan ini jarang sekali dilakukan oleh seorang wanita khususnya di Wonogiri. Sebab bekerja tanpa pamrih.

“Kita mendampingi warga tidak mampu untuk mendapatkan pengobatan yang layak. Baik layak secara medis maupun layak secara pembiayaan,” terang wanita kelahiran 1982 ini.

Dirinya punya alasan kuat untuk menekuni pekerjaan ini. Selama ini, banya penderitaan penderitaan masyarakat yang tidak mampu, namun belum tersentuh oleh pemerintah khususnya masalah kesehatan akibat kemiskinan. Setiap hari, dirinya harus berkeliling ke pelosok Wonogiri mencari warga yang tengah menyandang sakit parah, namun tak mampu melakukan pengobatan.

Untuk membantu warga masyarakat yang tidak mampu harus all out. Segala rintangan apapun rela diterjang. Apalagi kalau sudah menyangkut dengan pelayanan kesehatan. Tak canggung-canggung, dia siap mendamprat perawat atau pun pihak rumah sakit yang bekerja tebang pilih.

“Ada juga keluarga yang kurang kooperatif. Pasien semangat berobat tapi keluarga tak bersahabat,” tuturnya.

Wanita berkerudung ini merasa bahagia dan bangga jika pasien yang didampingi dapat sembuh dan kembali hidup normal. Pasien dengan berbagai penyakit pernah didampinginya.

“Bayangkan, pasien saya itu menderita penyakit tulang membusuk sudah sembilan tahun lamanya. Tapi alhamdulilah, berkat donatur serta kemudahan dari birokrasi akhirnya dia sembuh. Malah sekarang sudah bisa ke sawah lagi,” kenangnya.

Editor : Wahyu Wibowo

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge