0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Nyaris Punah, Legondo Jadi Buruan Saat Liburan

legondo buatan Suparmi
Legondo khas Sukoharjo ()

Sukoharjo — Legondo menjadi makanan yang paling diburu warga Sukoharjo yang merantau di berbagai penjuru Tanah Air. Rasa khas makanan asli Sukoharjo sejak puluhan tahun ini memang tidak bisa dilupakan begitu saja.

Namun sayang sekali, makanan tradisonal asli Kota Makmur ini nyaris punah dan sulit dijumpai di pasaran. Tempat yang masih membuat legondo hanya berada di Desa Sanggang, Kecamatan Bulu, yang berjarak sekitar 20 Km dari pusat kota.

“Saat ini kami sudah mulai kesulitan mencari makanan tardisonal ini, jadi setiap kali kita mudik lebaran selalu bernostalgia di kampung dengan makan Legondo yang tidak bisa kami jumpai di belahan kota manapun,” kata salah satu warga Kelurahan Begajah, Sukoharjo, Eko Harjanto kepada Timlo.net, belum lama ini.

Tidak hanya rasanya yang sangat enak, makanan ini juga memiliki sejarah yang tidak kalah menariknya dari makanan khas daerah lain. Nama legondo berasal dari bahasa Jawa yang berarti manusia tidak boleh tergesa-gesa dalam bertindak, harus dipikirkan dengan serius dan melangkah dengan serius.

Pasalnya, untuk membuat legondo, dibutuhkan kesabaran saat memasak maupun membuat bungkusnya. Kalau tidak tepat dalam meracik komposisi bahan, dipastikan hasilnya tidak sempurna dan sudah pasti sulit untuk dinikmati.

“Memang butuh kesabaran, karena bahan yang diperlukan beras ketan berkualitas bagus dan untuk membuat bungkusnya diperlukan keahlian khusus melipat dengan daun kelapa muda,” jelas satu-satunya pembuat legondo yang masih bertahan, Suparmi.

Suparmi sendiri belajar membuat legondo dari kakek dan ayahnya yang kini sudah meninggal belasan tahun yang lalu. Meskipun cukup rumit dan butuh tenaga ekstra, di usia senjanya, Suparmi bertekad melestarikan peninggalan leluhurnya sejak puluhan tahun yang lalu.

Legondo hasil racikan Suparmi pun sangat digemari masyarakat, karena memiliki khas yang masih dipertahankan sejak belasan tahun. Di dalam makanan berbahan dasar nasi ketan ini pasti akan ditemukan parutan kelapa yang rasanya sangat gurih dan juga tahan lama.

“Rasanya sangat khas dan bisa tahan tiga hari meskipun terbuat dari ketan dan kelapa, yang biasnaya cepat basi, sehingga sering saya beli untuk dibawa ke luar kota,” ujar salah satu pecinta kuliner, Antonius Wijanarko.

Pada musim mudik Lebaran, legondo menjadi makanan yang paling dicari di Sukoharjo. Sehingga Suparmi harus dibantu menantunya untuk melipat janur maupun menjaga nyala api. Pasalnya, memasak legondo harus dengan nyala api sedang dan stabil dari kayu bakar agar aroma kayunya juga merasuk ke makanan.

Satu buah legondo dengan ukuran rata-rata sebesar jari telunjuk orang dewasa dan panjang sekiatar 10 cm dihargai Rp 1000. Saat musim Lebaran, dalam sehari, Suparmi bersama keluarganya bisa membuat sekitar 100 buah bahkan lebih tergantung pesanan.

“Kadang juga sehari tidak bikin karena tidak ada pesanan, namun kadang juga ada pesanan untuk keperluan pengajian atau musim lebaran cukup banyak, semua kami syukuri dan kami tetap akan mempertahankan makanan khas Sukoharjo ini,” tandasnya.

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge