0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Krisis Air, Petani Merica Musuk Gagal Panen

Tanaman lada putih atau merica yang mulai mengering akibat krisis air di Desa Lampar, Musuk, Boyolali (dok.timlo.net/nanin)

Boyolali — Musim kemarau panjang mengakibatkan tanaman merica atau lada putih di Desa Lampar, Musuk, Boyolali terancam mati. Kondisi saat ini, tanaman merica yang merambat mulai mengering karena tidak air.

“Di sini ada 3 hektar tanaman merica, hampir 25% tanaman tidak produksi karena krisis air bersih,” ungkap Kepala Desa Lampar, Dwi Sugiyanto, Jumat (25/9).

Disebutkan, tanaman merica ini biasanya ditanam dengan cara tumpang sari dan merambat. Tanaman merica dirambatkan pada pohon-pohon keras, seperti mahoni dan pepaya. Saat ini, mestinya sudah memasuki masa panen, namun lantaran krisis air, tanaman menjadi kering dan tidak bisa dipanen lagi.

“Buahnya ikut kering, nanti bakal merembet ke pohonya, biasanya terus mati,” tambahnya.

Akibatnya komoditas unggulan di wilayah Desa Lampar merosot. Padahal, harga salah satu komoditi bumbu dapur itu kini cukup bagus, dimana harganya mencapai Rp 160.000 perkilogramnya.

“Yang kualitasnya bagus harganya bisa mencapai Rp 200.000/kg,” jelasnya.

Tanaman merica atau lada putih ini mulai dibudidayakan warga Lampat sejak beberapa tahun lalu. Bibit lada putih dibawa warga yang merantau dari Kalimantan. Karena mempunyai nilai ekonomi yang tinggi, sehingga banyak masyarakat yang membudidayakan. Hasil panen yang dipetik kemudian dijual ke pasar, namun harus diolah terlebih dahulu.

“Untuk membuang kulitnya harus direndam pakai air dingin, tiap hari harus diganti airnya. Persoalannya saat ini sulit air,” ujarnya.

Karena terkendala air, untuk mengelupas kulit merica, warga menggunakan air mendidih, meski kwalitasnya tidak sebagus menggunakan air dingin. Pihaknya berharap ada campur tangan dari pemerintah untuk memberikan pelatihan.

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge