0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Peringati Hari Tani, Mahasiswa Solo Kritisi Program Swasembada Jokowi

timlo.net/daryono

Aksi Teatrikal BEM FP UNS Dalam Peringatan Hari Tani di CFD

Solo – Puluhan mahasiswa dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Pertanian (FP) UNS menggelar aksi peringatan Hari Tani di Car Free Day (CFD) Jl Slamet Riyadi, Minggu (20/9). Dalam aksinya, mahasiswa menuntut pemerintah Joko Widodo lebih memperhatikan nasib petani.

Selain berorasi, mahasiswa juga menggelar teatrikal sebagai bentuk keprihatinan nasib petani. Mereka juga membentangkan poster dengan berbagai tulisan seperti “Stop Alih Fungsi Lahan”, Sejahterakan Petani”. Tidak hanya itu, mahasiswa juga menggalang dukungan dalam bentuk tanda tangan dari pengguna CFD.

“Melalui aksi ini, kami bersuara bahwa ada Hari Tani 24 September. Sudah 55 tahun Hari Tani ini diperingati. Tetapi tidak ada perbaikan nasib petani,” kata Presiden BEM FP UNS, Agus Wibowo kepada wartawan di sela aksi.

Dalam penerapan di lapangan, lanjut Agus, banyak kebijakan yang menyengsarakan petani. Selama ini, kesejahteraan petani juga minim perhatian dari pemerintah.

Lebih lanjut, Agus bersama kawan-kawan juga menyorot program Upaya Khusus Swasembada Pangan Jagung dan Kedelai (Upsus Pajale). Menurut dia, selama satu tahun diluncurkan, program unggulan pemerintah ini tidak jelas perkembangannya.

“Upsus Pajale itu salah satu program swasembada pangan tetapi 1 tahun ini belum ada perubahan. Petani malah tidak diberi bantuan. Program itu hanya wancana, padahal menghabiskan anggaran besar,” ujar dia.

Ada delapan tuntutan yang disampaikan mahasiswa. Antara lain stop alih fungsi lahan, menolak pembukaan lahan dengan cara pembakaran, menjunjung tinggi kearifan lokal menuju swasembada pangan. Kemudian, tranparansi program Upsus, menjunjung tinggi produk dalam negeri, meningkatkan produksi dalam negeri dengan mengurangi impor dan menjaga kelestarian alam dengan pertanian organik.

Dalam aksinya, mahasiswa juga menggandeng Komunitas Petani Organik dari Sukoharjo. Setyarman, salah seorang petani organik mengungkapkan pemerintah kurang memberdayakan petani. Pemerintah semestinya memfasilitasi petani agar bisa mandiri dan tidak mengalami ketergantungan.

“Pemberdayaan petani perlu dilakukan agar berbagai kebutuhan sarana produksi seperti benih, obat bisa diproduksi sendiri. Selama ini kan tergantung dengan pabrik,” ujar lelaki 53 tahun ini.

Editor : Wahyu Wibowo

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge