0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Siaga Darurat Kekeringan di Boyolali Diperpanjang

dok.timlo.net/nanin
Warga antri bantuan air bersih (dok.timlo.net/nanin)

Boyolali — Status Siaga Darurat Kekeringan di Kabupaten Boyolali diperpanjang hingga akhir bulan Oktober . Menyusul makin meluasnya daerah yang mengalami krisis air bersih. Dari data di BPBD  tercatat ada 45 desa di enam kecamatan yang mengalami krisis air bersih.

“Dari enam kecamatan, sekarang meluas ke Kecamatan Cepogo dan Boyolali Kota,” kata Kepala BPBD Boyolali, Nur Khamdani, Rabu (16/9).

Dijelaskan, meski pihaknya sudah memetakan daerah-daerah rawan krisis air bersih, namun kenyataan di lapangan, jumlah desa yang mengalami krisis air bersih bertambah. Selain itu, hingga saat ini, masih ada desa yang sama sekali belum mendapatkan droping air bersih.

“Akhirnya status Siaga Darurat kita perpanjang hingga akhir Oktober,” tambahnya.

Perpanjangan status siaga tersebut, sesuai dengan data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), yang menyebutkan musim kemarau tahun ini akan berlangsung hingga pertengahan November mendatang. Sehingga sepanjang Oktober nanti, belum ada tanda-tanda akan turun hujan.

Dijelaskan juga, sejauh ini puluhan desa yang dilanda kekeringan belum mendapat bantuan air bersih, di antaranya  desa-desa yang berada di sebagian Musuk, sebagian Wonosegoro, Andong, dan Karanggede. Droping air yang dikoordinir BPBD Boyolali hingga 12 September kemarin, baru menyalurkan 336 tangki air untuk 42 desa, yang sebagian di antaranya belum masuk peta kerawanan. Bantuan air bersih tersebut dikoordinir dari sejumlah pihak, seperti Kesra Setda Boyolali, bantuan juga datang dari PMI, Bakorwil II Surakarta, dan Polres Boyolali.

“Bantuan kita prioritaskan didaerah rawan kekeringan,” ungkap Nur Khamdani.

Kepala Bagian Kesra Setda Boyolali, Dadar Hawantoro menjelaskan, pemkab mengalokasikan anggaran sebesar Rp 105 juta untuk mengatasi krisis air bersih. Anggaran tersebut nantinya digunakan untuk bantuan air bersih ke daerah-daerah rawan krisis air bersih.

“Hingga nanti puncak kemarau, masih bisa mencukupi untuk droping air bersih,” tandasnya.

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge