0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Cegah Longsor Candi Sukuh, Ini Usulan Para Ahli

dok.timlo.net/nanang rahadian
Candi Sukuh sedang direnovasi (dok.timlo.net/nanang rahadian)

Karanganyar — Mengantisipasi terjadi longsor maupun tergerus air hujan, para ahli mengusulkan pembuatan drainase dan rekayasa lain di sekitar bangunan Candi Induk Sukuh, Karanganyar. Langkah itu dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk saat musim penghujan maupun kemungkinan lain terjadi.

“Berbagai rekayasa memang harus kita lakukan, namun kita juga harus kaji lebih mendalam,” kata Arkeolog dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada (UGM), Niken Wirasanti, baru-baru ini.

Niken menuturkan, sejumlah bagian pada Candi Induk Sukuh ambles. Namun, menurut dia hal itu wajar terjadi karena memang perubahan kondisi lingkungan sekitar mempengaruhi pondasi candi. Biasanya air, ekosistem di sekitar berubah, penebangan intensif, dan lain-lain.

“Sukuh ini juga dipengaruhi akar yang masuk, meskipun nggak signifikan,” kata Niken.

Oleh karena itu, lanjut Niken, tim pemugaran dan tim ahli berembug menentukan rekayasa apa yang harus dilakukan. Mereka juga harus menghadapi musim penghujan di penghujung tahun.

“Harus dirancang apakah ada perlakuan pada tanaman di sekitar candi. Belum berani memutuskan. Kami masih otak-atik. Kalau musim hujan lebih ke arah teknis,” jelas dia.

Dia meyakinkan tim yang memugar Candi Induk Sukuh berpengalaman berurusan dengan pemugaran selama musim hujan. Bahkan, mereka pernah memugar candi di Dieng. Iklim di Dieng lebih dingin dan lembab ketimbang di Karanganyar.

“Dieng lebih runyam karena tingkat kerapuhan lebih tinggi. Kalau sudah musim hujan, mereka akan tahu apa yang dilakukan,” jelasnya.

Sementara itu, Ahli Struktur dari Fakultas Teknik UGM, Djoko Sulistyo, mengusulkan pembuatan drainase untuk mengantisipasi air yang masuk dari bagian atas candi.

“Kayak ring di bagian bawah. Selokan atau drainase untuk mengalirkan air yang mau masuk ke candi. Untuk penguatan bangunan. Sekalian untuk mencegah akar masuk,” jelasnya.

Selain itu, dia juga memikirkan tentang campuran tanah agar dapat menyerap air, tetapi tidak mengakibatkan kerusakan konstruksi bangunan candi. Djoko juga mempertimbangkan penggunaan angkur keliling atau pada titik tertentu.

“Masih banyak yang harus dibicarakan. Harus berpikir bahan apa supaya air nggak membawa tanah sehingga nggak cepat ambles,” jelasnya.

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge