0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Begini Cara Membuat Payung Tradisional Berharga Ratusan Ribu Rupiah

timlo.net/heru murdhani

Chen Mi Paling Kanan, berpose bersama peserta workshop payung Tiongkok

Solo – Payung tradisional tidak selamanya dikerjakan dengan cara yang tradisional. Pun juga untuk masalah desain, tidak melulu konvensional. Seperti payung tradisional ala Negeri Tirai Bambu, mereka mengubah payung tradisionalnya ke dalam desain baru, dan corak baru. Hal ini terungkap saat digelarnya workshop Payung Tiongkok dalam rangkaian acara Festival Payung Indonesia (FPI) di kawasan taman Balekambang.

“Kami masih tetap mempertahankan bahan dasar pembuatan payung tradisional yakni Bambu dan Kertas atau Kain. Tetapi payung peninggalan leluhur kami ini telah mengalami banyak perubahan dalam cara pembuatannya,” ungkap delegasi Tiongkok, Chen Mi, Minggu (13/9).

Pembuatan payung, kata Chen Mi, telah menggunakan mesin-mesin untuk mempermudah dan memperbanyak proses produksi. Mesin seperti pemotong bilah bambu, mesin pengepress, dan lainnya bisa mempercerpat pembuatan payung.

Selain perubahan pada cara pembuatan, gadis ayu ini mengatakan juga terdapat perubahan dalam pembuatan desain. Jika dulu payung tradisi tiongkok hanya berwarna putih, sekarang bisa dibuat dalam berbagai warna. Selain itu ornamen gambar yang menghiasi payung, dibentuk sesuai dengan keinginan pemesan payung. Gambar bunga untuk payung wanita, dan gambar bercorak maskulin bagi pria. Desainnya juga bisa ditambahkan sekelumit puisi dalam bentuk kaligrafi.

Gagang payung pun tak ketinggalan. Desainnya dibuat berlubang di bagian tengah gagang payung, sehingga tidak licin dipegang pada saat hujan. Lubang di tengah ini dibuat dengan ukuran agak kecil yang cocok untuk ukuran tangan wanita. Sedang bagian luarnya dibuat guratan-guratan untuk pegangan yang mantap bagi laki-laki.

“Di Kota Han Zhou Tiongkok, kami memotong bambu beberapa hari setelah musim dingin selesai. Kami telah mempelajari bahwa saat itulah, bambu berada dalam kualitas terbaiknya. Pemilihan usia bambu juga mempengaruhi kualitas dari payung tersebut,” kata gadis yang pernah dinobatkan menjadi desainer payung terbaik dunia ini.

Bambu dengan usia diatas enam tahun dipilih sebagai bahan terbaik lantaran kuat dan liat. Bambu yang lebih muda atau lebih tua dari usia itu tidak dipilih, karena terlalu rapuh, sehingga akan menghasilkan payung yang tidak bagus kualitasnya.

Dalam pemasarannya, pemilik perusahaan payung Bamboo World ini melibatkan masyarakat umum. Dia memberikan workshop dan membiarkan orang datang dan turut serta dalam pembuatan payung di perusahaannya. Mulai dari pemilihan bambu, pemotongan, pembuatan, hingga desain dilakukan oleh pengunjung. Payung-payung itu nantinya boleh dibawa pulang sebagai souvenir.

“Dengan mengajak mereka untuk ikut terlibat, kami memasarkan produk payung tradisional kami, kepada para turis, baik dari Tiongkok maupun luar negeri,” katanya.

Bagi anda yang menginginkan payung tradisional tiongkok ini, siap-siap saja terkejut dengan harga yang ditawarkan. Karena payung dengan desain dan corak yang rumit dibanderol dengan harga sekitar Rp 700 ribu, sedangkan payung biasa dipatok harga Rp 400 ribu. Hal ini jauh jika dibandingkan dengan payung asli Juwiring Klaten yang hanya dihargai Rp 25 ribu hingga Rp 100 ribu.

“Harganya memang cukup tinggi, karena payung ini bukan hanya memiliki nilai fungsional, melainkan juga nilai artistik yang tinggi,” tandas Chen Mi.

Editor : Wahyu Wibowo

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge