0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Ini Sejarah Radio Kambing Menyiarkan Kemerdekaan RI

timlo.net/nanang rahadian

RRI Surakarta

Karanganyar — Sejarah panjang Radio Republik Indonesia (RRI) sebagai corong perjuangan kemerdekaan tak lepas dari sejarah radio kambing. Heroisme penyelamatan pemancar radio dari serangan tentara Belanda agar tidak bisa mengudara menyuarakan Kemerdekaan Republik Indonesia.

“Saat agresi militer tahun 1948, Belanda menghancurkan semua radio-radio yang ada di Indonesia,” kata Ary Purnomo, salah satu wartawan RRI Surakarta.

Ary menceritakan, Belanda menghancurkan radio agar tidak bisa lagi menyiarkan baik di dalam maupun di luar negeri bahwa Indonesia sudah merdeka. Sejumlah stasiun radio dihancurkan satu persatu dan RRI Surakarta yang merupakan stasiun radio Pertama di Indonesia juga tidak luput dari incaran pasukan Belanda.

“RRI Surakarta merupakan salah satu radio tertua di Indonesia juga menjadi incaran tentara Belanda,” kata Ari.

Akan tetapi berkat perjuangan keras yang dilakukan oleh para penyiar dan anggota TNI kala itu, maka Pemancar radio dan perangkat siaran berhasil diungsikan dari Kantor RRI Surakarta. Pemancar itu diungsikan dengan cara digendong secara estafet oleh para pejuang yang ada, hingga akhirnya tiba di Desa Balong Kecamatan Jenawi, Karanganyar, yang jaraknya dari Kota Solo sekitar 45 kilometer.

“Pemacar diletakkan di balik bukit dekat kandang kambing,” kata Ary.

Lokasi pengungsian itu kata Ari juga tidak luput dari serangan pasukan Belanda. Beberapa kali pasukan berusaha merusak perangkat siar, agar radio itu tidak lagi menyiarkan kemerdekaan Indonesia yang memicu semangat persatuan untuk menghancurkan Belanda. Untuk mengelabuhi pasukan Belanda, pemancar radio disembunyikan di sebuah kandang kambing yang ditutupi dengan makanan serta dedaunan. Saat kondisi aman, para penyiar dan pejuang kembali mengudara dan memberitakan kemerdekaan Indonesia.

“Perangkat radio itu kemudian dinamakan Pemancar radio kambing, sampai saat ini perangkatnya masih ada dan disimpan di Monumen Pers Nasional,” ucap Ari, Jumat (11/8) siang.

Lebih lanjut ia mengatakan perangkat radio kambing itu memiliki kemampuan yang luar biasa. Pada tahun 1936, perangkat itu mampu menyiarkan Gamelan dari Solo, untuk mengiringi tarian dibawakan oleh Putri Sri Mangkunegoro VII Gusti Nurul saat resepsi pernikahan Ratu Yuliana di Belanda. Kala itu radio tersebut belum bernama RRI, melainkan bernama Solosche Radio Vereneging yang berada di bawah kendali Pura Mangkunegaran.

Editor : Wahyu Wibowo

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge